Wahyu Kembangkan Hidroponik di Ponorogo
PONOROGO –– Wahyu Enggar Wanto membuka lahan pertanian hidroponik sejak awal tahun 2017, bertempat di Jalan Thamrin, Ponorogo usahanya sukses mendulang Rupiah. Lahan hidroponik miliknya selain untuk bercocok tanam, juga untuk pelatihan bagi siapapun yang ingin belajar bercocok tanam dengan sistem hidroponik.
Menurutnya, bercocok tanam dengan cara hidroponik lebih menguntungkan dan hemat tenaga dibandingkan dengan bercocok tanam cara konvensional atau menggunakan media tanah. “Kalau hidroponik medianya menggunakan air dan spon serta rockwool,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Senin (27/11/2017).
Wahyu sapaannya, menanam hidroponik juga mempersingkat waktu tanam, sehingga lebih cepat panen. Jenis tanamannya yang ia budidayakan seperti sawi, pak coy, bayam dan kale. Bahkan untuk tanaman sawi pak coy hanya dalam sebulan ia sudah bisa panen. Menariknya, meski musim hujan, tanaman hidroponik justru aman dan tetap terjaga kesegarannya.
“Hasil panen, kami olah sendiri kebetulan ada restoran yang kami kelola, sisanya kami kirim ke rumah sakit dan ke sekitar Ponorogo,” ujarnya.
Sistem tanam hidroponik sendiri merupakan sistem bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Berupa paralon yang dilubangi untuk jarak tanam, lengkap dengan spon dan rockwool sebagai media tanam.
Sedangkan untuk memenuhi nutrisi tanaman agar tumbuh dengan baik, air yang mengalir didalam paralon sudah diberi nutrisi. Menariknya, air yang berada didalam paralon selalu mengalir dan kembali lagi ke tempatnya semula.
“Ini bentuk pertanian modern, karena terbebas dari pestisida sehingga lebih aman bagi kesehatan,” cakapnya.
Untuk mengatasi hama, lanjutnya, ia tidak segan mengambil tanaman yang sudah diserang hama diganti dengan tanaman baru yang sehat. Menariknya, air yang digunakan untuk mengalirkan nutrisi bukan air sembarangan, melainkan air dari pegunungan. Karena air ini dinilai bisa menjaga kesegaran tanaman yang ditanam.
“Satu kali beli air saya bisa sampai 8000 liter,” imbuhnya.
Wahyu mengaku ia saat ini mengalami kesulitan dimana permintaannya banyak namun stok yang tersedia masih sedikit. Meski di Ponorogo sendiri ada 20 petani hidroponik, namun tidak bisa memenuhi permintaan konsumen.
“Permintaan banyak tapi stok masih sedikit, ini yang jadi kendala sekaligus peluang bagus,” tandasnya.
Wahyu berharap ke depan pemerintah melalui dinas terkait bisa mengembangkan sistem pertanian hidroponik terutama di kawasan perkotaan, dimana lahan pertanian sudah menyempit akibat pembangunan.
Dengan pertanian hidroponik selain sehat karena bebas pestisida diharapkan juga bisa memenuhi kebutuhan sayur dalam negeri agar tercipta ketahanan pangan demi menjaga keutuhan NKRI. Agar Indonesia tidak lagi mengimpor sayuran dan buah-buahan dari luar negeri.
“Masyarakat perkotaan juga bisa menyalurkan hobi bercocok tanam dengan cara hidroponik, supaya semakin banyak masyarakat bisa merasakan kesehatan dari makanan yang berkualitas, contohnya sayur yang bebas dari pestisida,” pungkasnya.
