LAMPUNG — Sepuluh hari setelah hari suci Galungan, umat Hindu di Lampung Selatan merayakan hari suci Kuningan yang merupakan rangkaian hari raya Galungan 1939 Saka, sebagai peringatan untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan).
Agung Putra (40), pemangku di Pura Kayangan Tunggal Amertasari, Dusun Sripendowo Barat, mengungkapkan, sembahyang perayaan hari suci Kuningan dilakukan sejak pagi, pukul 06.00 WIB. Sebagian umat bersama keluarganya melakukan persembahyangan di rumah masing masing atau di Pura Merajan yang ada di depan rumah masing masing.
Sebagian umat Hindu yang belum memiliki Pura Merajan permanen masih mempergunakan pohon sakti atau pohon dadap sebagai tempat menaruh sesaji, selanjutnya prosesi sembahyang kayangan dilakukan di pura desa yang disebut Pura Kayangan.

Mengenakan pakaian adat Bali, sebagian umat Hindu terutama kaum wanita terlihat membawa sesaji di Pura Merajan sebelum berdoa di Pura Kayangan. Perayaan hari suci Kuningan akan dilanjutkan dengan doa bersama seluruh umat Hindu yang ada di Lampung, di Pura Kerthi Buana yang merupakan ‘Besakih’-nya Lampung yang merupakan pusat dari umat Hindu di Lampung.
Umat yang melangsungkan persembahyangan di pura desa hingga kecamatan dan kabupaten, kata Agung Putra, selanjutnya akan berkumpul dengan umat Hindu lain dari seluruh Lampung dalam kegiatan piodalan atau hari jadi Pura Kerthi Buana di Way Lunik Panjang Bandarlampung.
Meski demikian, bagi umat Hindu lain yang tidak sempat mengunjungi pura tersebut bisa melakukan di lain waktu, karena dalam sehari kunjungan ke Pura Kerthi Buana bisa mencapai ribuan orang sejak pagi hingga malam hari.
Umat lain, Agung Rake (65), mengungkapkan, Kuningan menjadi sebuah hari suci untuk melakukan intropeksi diri dalam mencapai keselarasan antara manusia dan alam semesta dan Sang Hyang Widi Wasa Tuhan Yang Maha Esa. Berbagai ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk bakti manusia kepada Pencipta dan ajaran cinta kasih dari kemenangan dharma dalam pengabdian dan pelayanan.
