Tambah Penghasilan, Nelayan di Pegantungan Jual Hasil Olahan Singkong

LAMPUNG — Tinggal di wilayah pesisir pantai, sebagian warga di wilayah Dusun Pegantungan Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan yang berprofesi sebagai nelayan memiliki pekerjaan sampingan sebagai petani pekebun.

Di antaranya Hasanudin (55) dan Siti Khotimah (50) yang tinggal puluhan meter dari pantai dan muara sungai way Pegantungan. Aktifitas sehari hari merupakan nelayan tradisional dengan perahu bermesin 8 PK yang dipakai mencari ikan saat kondisi cuaca membaik.

Baca Juga : Pasca Cuaca Buruk Nelayan Lampung Selatan Kembali Melaut

Siti Khotimah [Foto: Henk Widi]
Selain sebagai nelayan, kesibukan sampingan yang dilakukan adalah bercocok tanam sayuran, tanaman kayu serta singkong yang dipergunakan sebagai bahan baku gatot, nasi tiwul, opak, krecek dan eyek eyek untuk dijajakan setiap pagi ke warga yang tinggal di perkampungan nelayan tepi Selat Sunda.

“Saya masih kuat melaut dengan mendayung tapi sekarang lebih mudah dengan adanya mesin perahu pada saat cuaca baik tapi saat kondisi cuaca buruk saya lebih memilih untuk berkebun pada lahan yang saya miliki yang sudah akan dibeli oleh pemilik modal,” terang Hasanudin salah satu nelayan tradisonal warga Dusun Pegantungan Desa Bakauheni saat ditemui Cendana News tengah berada di kebun miliknya, Jumat sore (3/11/2017)

Lokasi perkampungan nelayan yang ditempati Hasanudin dan penduduk di wilayah tersebut yang berada di balik perbukitan termasuk lindungan Pulau Sindu, Pulau Kandang Balak membuat terjangan angin kencang dan ombak di wilayah tersebut cukup aman untuk aktifitas bercocok tanam.

Hasil tanaman sayuran sebagian dimanfaatkan oleh sang isteri Siti Khotimah untuk kebutuhan sehari hari diantaranya daun singkong, kangkung, sawi, bayam serta tanaman lain sementara umbi singkong sengaja diolah menjadi makanan tradisional untuk dijual.

“Saat hasil tangkapan ikan banyak saya sengaja membuat ikan asin dan berjualan ikan segar keliling hasil tangkapan suami tapi saat tak ada tangkapan saya mengolah singkong menjadi gaplek, eyek eyek, krecek dan tiwul yang saya jual keliling,”ungkap Siti Khotimah.

Berjualan berbagai hasil olahan singkong diakuinya dilengkapi dengan ikan asin goreng yang dijual perporsi dengan daun pisang seharga Rp3.000 lengkap dengan lauk dan taburan parutan kelapa.

Nasi tiwul yang dijajakan oleh Siti Khotimah diakuinya menjadi puluhan porsi ditambah dengan eyek eyek dan sesekali ia membuat gethuk dan opak sehingga memperoleh hasil penjualan puluhan ribu perhari. Beras tiwul yang belum diolah bahkan kerap dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram dan banyak diminati warga yang menghindari makan nasi dari padi.

“Bisa untuk bantu bantu suami dan sebagian besar warga suka makan tiwul karena bisa dipakai untuk sarapan dan bahkan bahkan lebih nikmat disantap dengan hasil olahan ikan,”terang Siti Khotimah.

Baca Juga : Regenerasi Nelayan Perlu jadi Perhatian Pemerintah

Sebagai keluarga nelayan Hasanudin dan Siti Khotimah mengaku tinggal di dekat pantai dirinya tak pernah kehabisan bahan makanan jika mau bekerja keras bahkan pada musim tertentu dirinya bahkan bisa mencari kepiting bakau untuk dijual ke warga lain dan menangkap ikan. Selain itu dengan memanfaatkan lahan yang ada dirinya bisa menjual hasil olahan kebun miliknya sebagai penambah penghasilan keluarga dan tetap menjadi nelayan yang bersahaja.

Lihat juga...