SPBN Muara Piluk Berhenti Operasi, Nelayan Beli BBM ke SPBU

LAMPUNG—Sejumlah nelayan di pusat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni yang mulai melakukan aktivitas melaut masih memanfaatkan penggunaan bahan bakar solar dengan membeli bahan bakar tersebut di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Usman, salah satu nelayan Bagan Congkel mengungkapkan kebutuhan akan bahan bakar minyak sangat penting untuk aktivitas mencari ikan teri dan cumi di perairan Selat Sunda.

Kapal jenis Bagan Congkel yang dimilikinya dengan nomor selar S 380314 dengan GT 15 ton tersebut membutuhkan bahan bakar solar sebanyak 150 liter hingga 200 liter untuk kebutuhan selama sehari melaut.

Kebutuhan bahan bakar solar tersebut dalam beberapa tahun terakhir masih bisa dipenuhi oleh Stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) yang berada di tempat pendaratan ikan Muara Piluk. Sayangnya sejak beberapa bulan terakhir SPBN sementara tidak beroperasi.

“Biasanya kami membeli kebutuhan bahan bakar solar di spbn namun karena masih terhenti sementara operasionalnya kami membeli sebanyak tiga hingga empat jerigen solar di spbu Yogaloka, Bakauheni serta spbu garuda hitam di way baka,” terang Usman kepada Cendana News , Senin (20/11/2017)

Pasokan bahan bakar yang lancar di sejumlah SPBU tidak membuat kuatir nelayan terutama khusus di wilayah pesisir pantai timur. Nelayan bisa memiliki pilihan untuk membeli bahan bakar solar di SPBU Pematang Pasir, SPBU Simpang Lima Ketapang dan dua SPBU di Bakauheni serta satu SPBU di Yogaloka Desa Sumur.

Meski demikian nelayan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk biaya ojek atau distribusi pengangkutan dari SPBU ke tempat pendaratan ikan lokasi kapal nelayan sandar.

Sesuai dengan ketentuan saat ini diakuinya harga bahan bakar jenis solar dibeli dengan harga Rp5.150 per liter dan untuk sekali pembelian. Ia mengaku membeli sebanyak 200 liter dengan mengeluarkan uang sekitar Rp1.030.000 dengan ongkos pengangkutan mencapai Rp5.000 per jerigen.

Biaya ongkos muat dari lokasi yang jauh tersebut diakuinya tidak akan diperlukan jika spbn kembali beroperasi pekan depan dengan jarak SPBN dan kapal yang ditambatkan hanya belasan meter.

Jumani, salah satu pengelola SPBN Muara Piluk Bakauheni saat ditemui Cendana News mengungkapkan sementara waktu memang belum beroperasi untuk memperbarui izin operasi sekaligus pemeriksaan peralatan yang dipergunakan.

Seperti pada saat beroperasi SPBN Muara Piluk milik PT Aneka Kimia Raya (AKR) tersebut menyediakan stok bahan bakar jenis solar sebanyak 5.000 liter memenuhi kebutuhan bahan bakar nelayan yang berbeda beda.

“Sementara sebagian nelayan membeli bahan bakar dari spbu di luar namun jika sudah beroperasi biasanya nelayan sudah menyiapkan jerigen di dekat selang pengisian solar,”terang Jumani.

Keberadaan SPBN tersebut diakui Jumari sangat membantu nelayan sehingga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nelayan tidak harus membeli di lokasi yang jauh dan mengeluarkan biaya ekstra untuk kebutuhan bahan bakar minyak.

Belum tersedianya solar di SPBN AKR di Muara Piluk juga menjadi berkah tersendiri bagi para pengojek yang mendapatkan uang tambahan saat mengangkut jerigen berisi solar dari SPBU ke tempat pendaratan ikan Muara Piluk.

Sejumlah nelayan yang mulai melaut mulai berburu cumi cumi di wilayah perairan tersebut terutama pada pertengahan November sebagian nelayan pencari cumi mulai mendapatkan hasil yang cukup melimpah.

Sekali melaut sebagian nelayan berhasil memperoleh cumi cumi dengan berat sekitar 200 hingga 300 kilogram termasuk ikan jenis lain di antaranya selar,tongkol dan tenggiri. Cumi cumi hasil tangkapan dijual ke pengepul ikan dengan harga jual ukuran kecil mencapai Rp25.000 dan ukuran besar bisa mencapai Rp35.000 sementara ikan jenis lain berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Jumani,pengelola SPBN Muara Piluk yang sementara berhenti operasi memperbarui perizinan dan menunggu pasokan/Foto: Henk Widi.
Lihat juga...