Rumah Hancur, Warga Bantul Berharap Bantuan

YOGYAKARTA – Sejumlah korban yang rumahnya hancur akibat terjangan longsor dan banjir di Kabupaten Bantul, berharap bantuan pemerintah untuk ikut turun tangan merenovasi rumah mereka.

Pasalnya, sejumlah warga mengaku tak mampu jika harus memperbaiki sendiri rumah mereka yang luluh lantah diterjang banjir pada Selasa (28/11/2017) kemarin.

Suradi salah sorang warga korban banjir yang rumahnya hancur. -Foto: Jatmika H Kusmargana

Salah satu warga yang rumahnya hancur diterjang banjir adalah Suradi, (45) warga Dusun Dogogan, RT 1, Sriharjo, Imogiri, Bantul. Bangunan rumah miliknya yang berada tepat di pinggir ruas jalan utama Imogiri-Siluk, luluh lantah karena tak kuat menahan derasnya luapan air Sungai Opak yang meluber hingga areal persawahan dan badan jalan raya.

“Saya tidak tahu persis kapan bangunan rumah ini roboh. Karena saya dan keluarga sudah mengungsi sejak pukul 19.00 WIB kemarin. Sejak sore kawasan ini sudah terendam seluruhnya. Semua warga harus meninggalkan rumah dan mengungsi,” katanya, Rabu (29/11/2017).

Kondisi bangunan rumah seluas kurang lebih 4 x 13 meter milik Suradi, tampak hancur berantakan. Sebagian besar atap dan dindingnya ambruk. Bahkan, puing pondasi dan struktur bangunan tampak terseret arus hingga beberapa meter ke areal persawahan di sampingnya. Sejumlah lubang besar juga tampak menganga, tepat di antara bekas bangunan rumah serta badan jalan raya.

“Saya berharap pemerintah membantu warga yang rumahnya rusak dan hancur. Kita tidak kuat jika harus melakukan sendiri,” katanya.

Salah satu bantuan pemerintah yang paling diharapkan Suradi saat ini adalah alat berat untuk merobohkan sisa bangunan rumah, serta menutup atau menguruk lubang yang berada tepat di antara bangunan dan badan jalan.

Selain milik Suradi, sejumlah rumah di sekitar kawasan ini juga terpantau rusak parah. Sementara warga yang rumahnya masih utuh meski ikut terkena luapan air, nampak mulai kembali dari pengungsian untuk membersihkan rumah mereka.

“Seluruh keluarga saya, baik anak, istri, saudara, orang tua maupun mertua masih mengungsi di kantor kecamatan dan tidur di sana. Hanya saya saja yang balik ke rumah. Selain untuk membersihkan lumpur juga untuk menunggu dan berjaga-jaga. Kebetulan bangunan rumah lainnya tidak ikut roboh dan masih bisa ditinggali,” katanya.

Lihat juga...