Sungai Tallo Tercemar, Nelayan Kesulitan Mencari Ikan

MAKASSAR — Bau tak sedap menyeruak menusuk hidung, berasal dari Sungai Tallo yang berada di Kelurahan Buloa, kecamatan Tallo. Sungai yang membentang dari Kelurahan Sinrijala, Kecamatan Panakukang ini mengalami pencemaran yang cukup parah.

Tidak hanya pencemaran limbah cair, tetapi juga sampah-sampah yang hanyut ke sungai memperparah pencemaran Sungai Tallo. Keadaan ini berdampak pada mata pencaharian nelayan tangkap yang bermukim di Kelurahan Buloa.

Danggi (kaos biru). -Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Sejak air sungai ini tercemar oleh limbah cair yang diduga masyarakat dari pabrik, ikan, udang serta kepiting yang hidup di Sungai Tallo mengalami penurunan.

Safrudin, salah satu warga yang bermukim di sekitar Sungai Tallo, mengatakan, sejak adanya pencemaran Sungai Tallo ini penghasilannya berkurang. “Hal ini disebabkan adanya pencemaran limbah yang dibuang ke sungai. Ini berdampak pada hasil tangkapan saya sebagai nelayan. Maka untuk itu, saya menjual-jual untuk mendapat tambahan”, ungkap Safrudin, saat ditemui di tepi Sungai Tallo, Rabu (29/11/2017).

Serupa dengan Safrudin, perasaan resah juga dirasakan oleh Danggi, Ketua RT Kampung Sangka Bartu. Danggi menceritakan, sejak bayi dirinya dilahirkan di Kelurahan Buloa ini. Danggi mengaku dirinya merupakan generasi ketiga yang mendiami rumah yang berdiri di tepi sungai tersebut.

Sekitar 1985-1990, Danggi masih bebas menangkap ikan, udang, dan kepiting di belakang rumahnya dengan hanya memasang perangkap saja. Tetapi, memasuki tahun 1990 sejak berdirinya daerah perindustrian kima dan dipindahkan pabrik di daerah itu, akhirnya sangat merugikan masyarakat yang berada di pemukiman padat penduduk di Sangka Batu, ini.

Danggi menjelaskan, beberapa bulan yang lalu bahkan tidak ada sama sekali ikan yang hidup di sungai ini. Padahal, dirinya sudah menyediakan perangkap.

“Bahkan pernah di sungai ini ikan-ikan mengapung mati semua, karena limbah, bahkan kiriman limbah, warnanya hitam pekat”, ucap Danggi.

Ada saat masyarakat bisa tenang mencari ikan saat saluran limbah pembuangan ditutup selama beberapa hari. Di saat itu, masyarakat dengan tenang dapat mencari ikan, namun pada saat musim hujan dan di waktu bersamaan saluran limbah dibuka, hal ini sangat ditakuti oleh warga masyarakat, karena banyak ikan yang mati di sungai tersebut.

Baru setelah ada air pasang dari laut, limbah tersebut akan hanyut bersama air laut yang pasang. Di saat seperti itu, masyarakat akan senang mencari ikan di Sungai Tallo. Meski Sungai Tallo ini tercemar dengan limbah, Danggi tidak pernah mau beralih profesi sebagai nelayan.

Danggi mengaku sudah nyaman sebagai nelayan, dan untuk mendapat hasil ikan yang banyak dirinya melaut sampai ke Maros dan Segeri yang hanya menggunakan kapal kecil.

“Saya berharap, agar pemerintah bisa menangani. Bisa mencarikan solusi untuk penanganan limbah yang mencemari Sungai Tallo, agar kembali bisa menjadi tempat mata pencaharian masyarakat seperti sebelum adanya pabrik yang beroperasi”, tutup Danggi.

Lihat juga...