Petani Palas Manfaatkan Irigasi untuk Tanaman Pakan Ternak
LAMPUNG — Profesi masyarakat Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan didominasi petani dan peternak. Hal ini mendorong tingginya kebutuhan akan pakan berasal tanaman hijauan alami yang tumbuh liar dan sebagian malah dibudidayakan.
Langgeng (60), salah satu petani di Desa Rejomulyo Kecamatan Palas mengaku memiliki ternak sapi dua ekor, sehingga membutuhkan pakan hijauan yang diambil dari areal persawahan berupa limbah panen di antaranya jerami dan rumput lain. Jenis rumput lain sengaja dibudidayakan tanpa mengganggu tanaman padi miliknya sebagai sumber pakan ternak yang bisa diambil sepanjang waktu.
Salah satu jenis tanaman hijauan pakan rumput yang sengaja ditanam tepat di tanggul saluran irigasi permanen oleh Langgeng diantaranya rumput kolonjono (brachiaria mutica) yang sangat disukai ternak sapi miliknya bahkan ternak kambing.
Jenis rumput kolonjono diakuinya merupakan jenis rumput berumur panjang dan merupakan rumput potong yang bisa dibudidayakan sebagai tanaman sela atau tanaman pakan skala besar oleh pemilik ternak penggemukan.
“Saya justru dibawakan bibit oleh anak yang bekerja di peternakan penggemukan sapi jenis rumput kolonjono dan rumput gajah yang sangat cocok untuk pakan ternak terutama ketika musim tanam belum ada jerami padi,” ujar Langgeng saat ditemui Cendana News tengah memotong rumput kolonjono untuk ternak sapi miliknya, Senin (6/11/2017)
Pemilihan tanaman rumput kolonjono diakui Langgeng bukan tanpa alasan sebab rumput tersebut mempunyai banyak manfaat. Salah satunya sebagai tanaman penahan longsor pada tanggul saluran air agar tidak mudah tergerus.
Rumput kolonjono memiliki akar kuat. Rumput ini kerap menjadi pelindung pematang sawah yang belum disemen agar tidak mudah tergerus longsor, sehingga kerap menjadi penahan dari gerusan air selokan.
Fungsi utama tentu saja diakui Langgeng sebagai sumber pakan yang kerap dicampurkan dengan jenis pakan lain di antaranya rumput gajahan, dedak, tetes tebu, serta campuran lain dengan sistem pakan fermentasi.

Tanaman rumput yang menyukai habitat di dekat air menyerap air yang ada di sungai, sekaligus bisa dipanen setiap daun tumbuh sehingga tidak perlu melakukan penanaman ulang.
Pasca dipotong rumput kolonjono diakuinya justru akan tumbuh subur dengan rumput yang baru secara berkelanjutan. Selain kolonjono tanggul bahkan dimanfaatkan untuk menanam singkong dan jeruk pecel yang bisa dimanfaatkan daunnya.
Peternak lain yang memanfaatkan pakan alami dari kolonjono adalah Edi Gunawan (30) yang sengaja menanam rumput kolonjono dan rumput gajah (pennisetum purpureum) yang saat ini sudah semakin banyak dikembangkan oleh petani peternak sebagai bahan kebutuhan pakan.
Rumput kolonjono bahkan ditanam pada tanggul kolam ikan sementara rumput gajah bisa ditanam di pinggir pekarangan sekaligus sebagai tanaman pembatas alami.
“Semenjak kebutuhan pakan ternak meningkat sementara faktor alam kemarau berimbas berkurangnya stok pakan hijauan alami kami sengaja menanam rumput kolonjono dan rumput gajah,” beber Edi Gunawan.
Ia bahkan menyebut selain tidak mengganggu tanaman lain pemanenan sengaja dilakukan pada saat tertentu terutama saat dirinya tidak bisa mendapatkan pakan di areal persawahan. Selain sebagai pakan tanaman rumput kolonjono dan rumput gajah dimanfaatkan sebagai penahan erosi terutama ditanam pada tepi aliran sungai dan sebagian pada tanggul irigasi.
Berkat menanam rumput kolonjono dan rumput gajah ternak kambing miliknya bahkan tidak pernah kekurangan pakan sementara bibit kolonjono dan rumput gajah yang sebagian awalnya dibeli satu kotak seharga Rp60.000 kini berkembang menjadi ratusan rumpun dan sebagian diberikan kepada peternak lain.
Pemberian rumput kolonjono dan rumput gajah tersebut sekaligus menjadi sumber pakan alami karena di wilayah tersebut diakui Edi hampir sebagian besar masyarakat petani juga merangkap sebagai peternak.
Selain karena memiliki manfaat yang cukup besar beternak menjadi bagian investasi jangka panjang dengan tabungan ternak kambing yang bisa dijual perekor mencapai Rp2 juta dan sapi seharga Rp15 juta per ekor bahkan bisa mencapai Rp20 juta jenis Simental.
“Pemanfaatan lahan pekarangan dan tanggul irigasi sekaligus menjadi tabungan karena dengan sumber pakan yang baik akan mendukung usaha peternakan kami,”terang Edi.
Kebutuhan akan pakan ternak hijauan yang sulit dicari pada saat musim kemarau dan harus “berebut” dengan peternak skala besar lain yang mencari pakan dalam jumlah besar. Dengan sistem mengupah tenaga kerja membuat peternak seperti Edi dan Langgeng berinovasi memanfaatkan lahan sempit, tanggul irigasi dan sawah untuk penyediaan pakan hijauan.
