Petani Kelapa Maluku Utara Butuh Solusi Tingkatkan Penghasilan

TERNATE – Petani kelapa di Maluku Utara dulu bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Termasuk menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi, hanya dengan mengandalkan hasil dari satu hektare kebun kelapa.

Namun, sekarang petani kelapa yang hanya memiliki kebun kelapa, harus mencari penghasilan tambahan dari usaha lain. Hal itu dikarenakan harga kopra yang merupakan hasil utama kebun kelapa saat ini sangat murah. Hasil penjualan sering kali tidak dapat menutupi biaya hidup dan pendidikan yang justru semakin mahal.

Salah seorang petani kelapa dari Kabupaten Halmahera Selatan Ahmad Hasan menuturkan, tanaman kelapa dipanen setiap tiga bulan. Namun demikian hasil panen tidak dapat langsung dijual karena pemetikan buah hingga proses pembuatan kopra membutuhkan waktu sedikitnya satu bulan.

Dari satu hektare kebun kelapa biasanya menghasilkan 1,5 ton kopra atau senilai Rp7,5 juta. Nilai tersebut  dengan menghitung harga kopra di tingkat petani saat ini sebesar Rp5.000 perkilogram. Tetapi fakya yang ada, saat ini petani hanya bisa mengantongi sekira Rp5juta. “Karena selebihnya untuk menutupi biaya produksi, seperti pemetikan buah dan pembuatan kopra,” ujar Ahmad, Sabtu (18/11/2017).

Pendapatan Rp5 juta dalam satu kali siklus panen itu, jika dibagi empat bulan berarti petani hanya memperoleh pendapatan Rp1,250 juta per bulan. Jumlah yang disebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Oleh karena itu petani berharap harga kopra di tingkat petani mencapai minimal Rp10.000 per kg.

Kepala Dinas Pertanian Maluku Utara Idham Sangadji mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait rendahnya harga kopra di tingkat petani di daerahnya. Harga kopra lebih ditentukan oleh mekanisme pasar dan perkembangan harga di pasaran global.

Namun demikian Dinas Pertanian Maluku Utara tetap melakukan berbagai program untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa setempat. Di antaranya mendorong petani untuk merawat tanaman dengan baik agar produktivitasnya bisa meningkat sampai tiga ton per hektare.

Selain itu, mendorong petani kelapa untuk melakukan peremajaan terhadap tanaman kelapa yang sudah tua, karena dari sekitar 260 ribu hektare tanaman kelapa rakyat di Maluku Utara, sebagian besar sudah berusia tua dan produktivitasnya semakin menurun.

Menurut Idham Sangadji, program lain yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan petani kelapa di Maluku Utara adalah mendorong mereka menerapkan pola pertanian terintergrasi yakni menanam tanaman lain di kebun kelapanya. “Tanaman lain yang ditanam di lahan perkebunan kelapa di antaranya tanaman pangan seperti keladi, ubi kayu dan sayuran serta tanaman rempah seperti jahe merah, kunyit, kencur, bahkan bisa pula memelihara ternak sapi,” Jelasnya.

Adanya tanaman lain di lahan perkebunan kelapa, akan memberi tambahan pendapatan bagi petani kelapa, yang jika dikelola secara baik dan skala besar dapat menutupi kebutuhan hidup keluarga di samping dari hasil kelapa.

Pemerintah daerah saat ini juga melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk membeli kopra petani kelapa setempat dengan harga di atas harga pembelian pedagangan pengumpul. Kopra kemudian dipasarkan langsung ke Surabaya, Jawa Timur.

Bupati Halmahera Barat Danny Missi mengaku telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, untuk pemasaran komoditas perkebunan dari Halmahera Barat ke provinsi itu. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menyediakan sejumlah pengusaha di daerah itu, yang siap menampung komoditas perkebunan dari Halmahera Barat dengan harga tinggi, kopra misalnya Rp15.000 per kg.

Dengan harga pembelian kopra di Jawa Timur sebesar Rp15.000 per kg maka BUMD di Halmahera Barat memungkinkan membeli kopra petani setempat seharga Rp10.000 per kg, sehingga pendapatan petani akan meningkat yang pada gilirannya akan membuat mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. (Ant)

Lihat juga...