Pengungsi Banjir di Bantul Tidur Beralas Tikar 

YOGYAKARTA – Sejumlah nenek-nenek yang sudah renta, nampak hanya bisa tidur di lantai beralas selembar tikar. Mereka berbaring bersampingan dengan baju kebaya tipis dan jarik tanpa selimut yang menempel di tubuh.

Ada sebagian yang membawa bantal, namun ada pula yang  harus memanfaatkan barang bawaan untuk alas kepala. Bahkan, ada nenek-nenek yang tidak mengenakan alas kepala sama sekali karena tak sempat membawa barang bawaan dari rumahnya.

Koordinator Pengungsian Jayan, Tegal, Titin.  –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Saya di sini sejak semalam. Rumah banjir. Tidak sempat membawa apa-apa,” ujar salah seorang nenek itu dalam bahasa Jawa.

Sejak bencana banjir menerjang dusun mereka, Selasa malam kemarin, warga Jayan, Tegal, Kebonagung, Imogiri, Bantul, harus mengungsi. Mereka harus tidur dan tinggal sementara di sebuah bangunan gedung serba guna balai desa setempat.

“Kita satu dusun semua mengungsi di sini. Karena kemarin waktu banjir besar semua rumah terendam. Terkena luapan Sungai Opak yang berada tepat di samping dusun,” ujar Riyanto, warga Jayan, Tegal RT 3 Kebonagung, Rabu (29/11/2017).

Titin, Koordinator Pengungsian Jayan, Tegal, menyebut ada 200 orang lebih warga yang mengungsi sejak Selasa kemarin. Terdiri dari 10 orang balita, 7 batita, 15 lansia, 35 anak-anak, 2 difabel dan 1 orang ibu hamil.

“Hampir semua rumah warga terendam. Bahkan ada yang sampai sepinggang. Karena itu, oleh kepala dusun semua diminta mengungsi,” katanya.

Banyaknya warga yang tak sempat membawa barang bawaan, membuat mereka tinggal sementara dengan kondisi seadanya. Kini, mereka hanya menggantungkan pasokan logistik dari relawan maupun pemerintah.

“Kita masih membutuhkan bantuan makanan siap saji,  banyak selimut,  peralatan mandi serta air bersih,” katanya.

Meski sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing, namun tak sedikit warga khususnya nenek-nenek dan kakek-kakek, serta anak-anak yang memilih tinggal sementara di lokasi pengungsi. Mereka khawatir bencana banjir susulan akan kembali terjadi.

“Sebagian sudah pulang untuk membersihkan rumah. Namun, untuk lansia dan anak-anak tetap di sini. Anak-anak juga harus libur sekolah untuk sementara,” katanya.

Sejak bencana banjir dan longsor terjadi pada Senin kemarin, BPBD DIY mencatat ada 1.750 warga mengungsi. Pengungsian sementara terpusat di Bantul dengan jumlah paling banyak di daerah Kebonagung, Imogiri, sebanyak 730 orang pengungsi.

Selain Kebonagung, pusat pengungsian juga terdapat di Balai Desa Imogiri dan kecamatan Imogiri. Sementara di Sleman juga terdapat lokasi pengungsian di antara lain di kecamatan Prambanan.

Lihat juga...