OJK: Inklusi Keuangan Masih Rendah di Kalsel

BANJARMASIN – Otoritas Jasa Keuangan mencatat tingkat inklusi dan literasi keuangan di Kalimantan Selatan tergolong masih rendah. Sebaran pembangunan, pendapatan dan infrastruktur yang belum merata menjadi pemicu utama rendahnya inklusi keuangan di Kalsel.

Deputi Direktur Pengawas Lembaga Jasa Keuangan OJK Regional IX Kalimantan, Azilsyah Noerdin, terus mendorong tingkat inklusi dan literasi keuangan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, karena termasuk rendah di antara lima provinsi di Pulau Borneo itu.

Azilsyah mendasarkan dari indikator realisasi program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan inklusi). Dia menuturkan, program Laku Pandai di Kalsel menggaet 5.000 agen dan 67.687 nasabah dengan basic saving account (BSA) sebanyak Rp16 miliar. Realisasi ini terhitung sejak Laku Pandai dirilis pada Maret 2015 – Oktober 2017.

Menurut dia, fakta itu menempatkan literasi dan inklusi keuangan Kalsel sangat rendah se-Kalimantan. “Dengan tingkat literasi keuangan 60 persen,” kata Azilsyah Noerdin di sela diskusi bertajuk ‘Akses Keuangan untuk Semua’ di Banjarmasin, Selasa (28/11/2017).

Secara nasional pada periode yang sama, realisasi Laku Pandai sudah mencatatkan 428 ribu agen, 12 juta nasabah, dan BSA sebanyak Rp1,3 triliun. Menurut Azilsyah, ada sembilan perbankan yang ikut Laku Pandai di Kalsel, seperti BRI sebanyak 3.447 agen, BNI ada 768 agen, dan Bank Mandiri ada 629 agen.

Sementara itu, Sales Management Head BTPN Woo!, Mohammad Reza Rizal, mengatakan, Laku Pandai merupakan konsep revolusioner yang mengubah peta perilaku masyarakat Indonesia dalam berhubungan dengan perbankan. BTPN, kata dia, terus berupaya mendorong masyarakat berpenghasilan rendah untuk gemar menabung lewat agen Laku Pandai milik BTPN Wow!

Pihaknya menawarkan beragam kemudahan, seperti aktivitas perbankan cukup melalui gawai. Rizal mengklaim, cara itu sangat praktis karena nasabah dan agen dapat bertransaksi mengirim uang, membeli pulsa, tiket, serta membayar tagihan listrik atau air melalui telepon genggam.

Ia menargetkan, masyarakat yang belum punya rekening bank, tapi sudah terbiasa menggunakan telepon seluler dan mengisi pulsa. “Jadi, transaksi memakai ponsel bukan hal yang rumit,” kata dia, sambil menambahkan masyarakat tidak dipungut biaya administrasi, menabung tanpa batas minimal, dan ada kepastian bunga.

BTPN telah mengaplikasikan teknologi Unstructured Supplementary Service Data yang bisa dipakai di segala telepon berbasis GSM dengan sinyal minimum. Rizal mengklaim, agen Laku Pandai BTPN Wow! saat ini mencapai 200.000 agen dengan jumlah nasabah 4,3 juta orang se-Indonesia.

Lihat juga...