Damandiri Serahkan Dokumen Pidato Presiden Soeharto ke Perpusnas

JAKARTA — Ketua Yayasan Damandiri, Subiakto Tjakrawerdaya menyerahkan dokumen pidato Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto kepada pengurus Perpustakaan Pusat Nasional Republik Indonesia di kantor Damandiri, Kamis (2/11/2017).

Baca Juga : Ini Kata Pakar Soal Pembangunan di Era Pak Harto

Subiakto Tjakrawerdaya menyebutkan, dokumen tersebut merupakan fakta sejarah perkembangan bangsa Indonesia dalam 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto. Dokumen yang tersimpan dengan rapi sudah dalam bentuk mikro film dan dibuatkan daftar kronologisnya sehingga sudah tersusun dengan baik.

“Dokumen pidato bapak Soeharto banyak mengandung nilai-nilai pengetahuan di dalamnya, menggambarkan cara pandang dalam memajukan bangsa Indonesia,” sebutnya.

Roll Mikro Film Dokumen Pidato Presiden Soeharto./Foto: Muhammad Fahrizal

Dokumen ini sangat penting untuk generasi anak bangsa agar mereka mengerti perjalanan dan sejarah perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sesungguhnya. Hal tersebut terlihat dengan jelas di dokumen pidato bapak Soeharto.

“Adanya dokumen pidato ini sangat bermanfaat untuk kemajuan negara, pemimpin sekarang ini dapat mengkaji dan memakai pidato-pidato bapak Soeharto sebagai bahan referensi yang sangat relevan karena di dalamnya terdapat banyak prestasi sejarah yang sudah dilakukan,” terang Subiakto.

Subiakto Tjakrawerdaya (kiri) dan Fuad Bawazier (kanan)./Foto: Muhammad Fahrizal

Ditambahkan, dokumen pidato ini juga menjadi bahan referensi untuk generasi muda penerus bangsa dalam memajukan pembangunan di masa yang akan datang.

Baca Juga : AM Fatwa: Soeharto Pemimpin yang Tegas

Sementara itu, Muhammad Syarif bando, Kepala Perpustakaan Pusat Nasional Republik Indonesia, menyambut baik Dokumen Pidato Presiden Soeharto yang sudah dalam bentuk mikro film.

Menurutnya, dokumen pidato Bapak Soeharto yang diserahkan Yayasan Damandiri kepada Perpusnas merupakan penghargaan dan suatu kehormatan

:Semoga bermanfaat untuk bangsa dan negara,” sebutnya.

Muhammad Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Pusat Nasional Indonesia./Foto: Muhammad Fahrizal

Dokumen Pidato tersebut nantinya akan ditempatkan di lantai delapan Perpusnas dan akan di identitaskan sebagai koleksi Khusus Bapak Soeharto, serta akan di digitalkan sehingga dapat di akses secara on-line.

“Semoga Dokumen Pidato bapak Soeharto bisa menjadi bahan pelajaran bagi bangsa ini, bagi generasi penerus bangsa. Memang tugas dari Perpusnas inilah memberikan akses, dan itu berpulang kembali kepada masyarakat untuk menggunakan akses yang kita berikan,” sambungnya.

Perpusnas menurutnya sekarang ini sudah memiliki program sistem digital yang masyarakat bisa dengan mudah mengakses apa-apa yang mereka butuhkan. Tidak hanya itu, mereka juga bisa berbagi pendapat antar pembaca perihal buku yang mereka baca secara online.

Baca Juga : MAKAM PAK HARTO JADI LADANG REJEKI

Sejauh ini sudah 132 negara yang bisa mengakses. Sudah saatnya Perpusnas tidak lagi menunggu pengunjung tetapi dengan adanya fasilitas program sistem digital ini memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam mencari data atau refensi yang mereka butuhka.

“Dokumen Pidato ini nantinya akan bisa dibaca dalam bentuk full teks dan full konten oleh penduduk dunia dari 132 negara yang sudah bisa mengakses Perpusnas, dan kemungkinan akan disertai hak paten untuk memberikan akses. Hak paten ini bertujuan menjaga agar tidak ada pihak-pihak luar yang mengklaim atau menggugat Perpusnas perihal dokumen ini,” jelasnya.

Lihat juga...