LAMPUNG — Akhir pekan menjadi saat paling tepat untuk rekreasi atau berlibur bersama keluarga. Mengunjungi beberapa tempat menarik berupa tempat rekreasi bahari, pegunungan maupun destinasi rekreasi yang menyegarkan pikiran dan mata.
Meski demikian, cara berbeda dilakukan oleh Suharni (70), dari Gatot (80) yang sejak gadis menyukai berkebun dan bertaman di pekarangan rumah sebagai cara lain rekreasi. Pekarangan yang disulap menjadi taman sekaligus melengkapi usahanya mendirikan warung kuliner khas Jawa Timur menjadi tempat yang nyaman bagi pengunjung di tempatnya.
Suharni mengatakan, saat ini ia menanam berbagai jenis bunga di antaranya euphorbia (euphorbia milii), lidah buaya (aloe vera), lidah mertua (sansevieria), kamboja Jepang (adenium), Sri Rejeki (aglaonema crispum), kuping gajah (anthurium andraenum), kaktus (cactaceae), gelombang cinta (anthurium) serta berbagai jenis bunga lain didominasi berbagai jenis anggrek (orchidaceae) berbagai jenis sebagai koleksi sekaligus penangkaran.
Halaman depan, samping dan belakang dengan luas mencapai 400 meter persegi bahkan dipenuhi berbagai jenis bunga yang sebagian merupakan hasil penangkaran setelah didatangkan dari wilayah Jember, Jawa Timur, tempat asalnya.

“Saya menyukai anggrek sejak tinggal di Jember dan saat merantau sebagian bibit saya datangkan langsung dari Jember, sebagian saya beli dari beberapa tempat ditangkarkan dan berkembang biak menjadi banyak”, terang Suharni, warga Desa Ketapang Laut, Simpang Lima, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, saat ditemui Cendana News di halaman miliknya, Minggu (5/11/2017).
Kini. Budi daya anggrek yang ditekuninya justru mendominasi dan Suharni menjadi salah satu wanita yang dikenal sebagai pembudidaya sekaligus penangkar berbagai jenis bunga anggrek, meski beragam jenis bunga lain sebagai penghias taman dan berfungsi sebagai obat juga ditanamnya.
Beberapa jenis tanaman obat yang ditanam, di antaranya sirih merah, lavender serta bunga lain yang dibudidayakan dalam media pot dan polybag sebagian dalam media tanah.
Khusus untuk berbagai jenis anggrek, Suharni menanamnya dalam media pot plastik, pot tanah dengan komposisi serabut kelapa, arang kayu dan serat akar pakis yang sangat disukai dalam pertumbuhan anggrek hingga berbunga tanpa lupa proses perawatan dengan pemberian pupuk dan penyiraman. Lokasi penanaman dengan naungan menggunakan jaring khusus diakuinya ikut mendukung perkembangan bunga anggrek yang sedap dipandang mata saat berbunga, terutama pada bulan November ini.
“Bunga anggrek memang harus dirawat dengan ketelatenan dan menjadi aktivitas rekreasi, karena kreativitas dan juga memanfaatkan media yang ada menjadikan kegiatan menanam bunga, khususnya anggrek cukup menarik”, beber Suharni.
Bermula dari hobi tersebut, puluhan jenis anggrek sebagai indukan telah ditangkarkan. Selanjutnya dipisahkan sebagai bibit melalui pemisahan anakan dan berkembang menjadi ratusan bibit. Memiliki latar belakang pertanian membuatnya tekun mengembangkan anggrek, termasuk jenis anggrek endemik Gunung Rajabasa. Meski teknik pengembangan anggrek bisa dilakukan dengan teknik kultur jaringan, namun ia masih melakukan budi daya anggrek secara konvensional memanfaatkan media yang ada.
Media sederhana dan mudah diperoleh kerap dicarikan oleh sang suami, di antaranya serabut kelapa, sisa kayu gergajian hingga akar pakis yang dipergunakan sebagai media tanam termasuk arang kayu. Hasil pengembangan anggreknya nyaris memenuhi halaman samping rumahnya yang berfungsi sebagai lokasi penangkaran anggrek dan berbagai jenis bunga lain yang sebagian diberikan gratis kepada orang yang berniat menanam bunga.
Meski awalnya menekuni budi daya bunga khususnya, anggrek, sebagai hobi dan rekreasi saat waktu luang, Suharni mulai menerima pesanan bunga dari berbagai tempat khususnya untuk bunga anggrek. Sebagian anggrek diakuinya dibeli dalam kondisi dewasa hybrid (belum berbunga) jenis Vanda dijual dengan harga Rp220.000, Cattleya seharga Rp120.000, anggrek bulan seharga Rp50.000, Dendrobium seharga Rp50.000, Oncidium seharga Rp55.000 serta berbagai jenis anggrek lain dengan harga berkisar Rp50.000 hingga Rp300.000 dalam kondisi belum berbunga.
Selain berbagai jenis anggrek tersebut, Suharni juga terus menambah koleksi anggrek miliknya semakin banyak sebagian dipergunakan sebagai hiasan di dalam rumah, dan sebagian ditanam di tanah, khususnya jenis kalajengking merah (gimstori), Emma dan Vanda Doglas yang kerap dipergunakan sebagai bunga potong penghias vas.
Berbagai jenis bunga anggrek miliknya sebagian belum berbunga dan menunggu waktu berbunga, sehingga terus mendapat perawatan yang maksimal hingga berbunga.
Pengembangbiakan bunga anggrek, kata Suharti, juga dilakukan dengan teknik menyemai biji dengan botol khusus hingga diperoleh bibit selanjutnya dipindahkan ke pot pot khusus. Selain penyediaan bibit dan media tanam serta perawatan yang baik, ia juga tidak lupa menggunakan pupuk urea dan ZA sebagai sumber nutrisi bagi bunga anggrek miliknya.
Hobi bertaman dan membudidayakan anggrek diakui Suharni selain bisa menjadi sarana rekreasi juga sekaligus menguntungkan, terutama dari hasil penjualan bunga miliknya meski usianya tak lagi muda.
Esty, salah satu penghobi bunga anggrek juga menyebut, melalui Suharni dirinya banyak belajar teknik budi daya anggrek yang benar, sehingga sebagian pekarangan miliknya dipenuhi dengan bunga anggrek, bahkan bisa menjadi kesibukan sampingan sebagai ibu rumah tangga. Bunga anggrek beragam jenis yang dibudidayakan oleh Esty sebagian berasal dari Suharni.