Berkat Tommy Kena Tumpahan Air Panas, Pak Harto Menyelamatkan Indonesia dari Kebiadaban PKI

Berbagai cerita tentang selamatnya seseorang dari maut atau kecelakaan sudah sering terjadi, kita dengarkan dan kita ketahui. Seperti orang naik taksi bannya kempes, sehingga terlambat di bandara dan ditinggalkan pesawat. Bahkan, sekarang ini, banyak pesawat tiba-tiba raib, tidak pernah kembali dan diketahui dimana rimbanya.

Selain kosa pengetahuan di atas, sudahkah kita ketahui, bagaimana cerita Bangsa Indonesia lepas dari bahaya PKI dan Komunis di tahun 1965, dalam gerakan G30S/PKI? Inilah sekelumit cerita spiritual yang layak untuk kita pahami, sebagai bagian dari bangsa Indonesia tentang penyertaan Tuhan dalam hidup bangsa Indonesia.

Peristiwa ini sebenarnya hanya secuil kisah lucu dari kenakalan anak kecil yang bernama Tommy Soeharto tersiram air panas. Kebetulan, Tommy adalah anak dari Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua. Namun, siapa yang dapat memahami, bahwa peristiwa sederhana yang terjadi dalam rumah tangga Soeharto, mampu menjadi sebuah peristiwa dimana Tuhan menunjukkan kuasa Nya, kepada kita bangsa Indonesia?

Apakah itu suatu keberuntungan atau suatu kebetulan? Dalam hidup ini, tidak ada yang kebetulan. Karena, kita semua sebagai manusia tidak akan pernah luput dari pandangan dan perhatian Tuhan, termasuk keluarga Bapak Soeharto. Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai bahan pencerahan bagi kita bangsa Indonesia untuk memahami spiritual dalam kehidupan ini, agar dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita dapat kita ambil hikmah dan rencana indah Tuhan.

Semoga, tulisan ini bermanfaat bagi bangsa Indonesia dalam memahami jati diri dan bagian kehidupan yang berpengaruh, selain dari akal pikiran dan pengetahuan. Bukan untuk mengkultuskan atau mengagungkan, tetapi anugerah dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita ini.

TRAGEDI KEBANGSAAN INDONESIA DALAM G 30 S/PKI DI TAHUN 1965.

Ada seorang tokoh Partai Murba yang melaporkan kepada Soekarno,”PKI akan memberontak.” Dan ternyata, malah tidak mendapat tanggapan yang serius dari Soekarno. Di lain waktu, seorang ajudan Soekarno, dari kesatuan TNI AL melaporkan kepada Soekarno akan ada gerakan PKI untuk melakukan pemberontakan. Celakanya, Soekarno bukannya menerima masukan tersebut dengan baik, melainkan justru dihardiknya ajudannya tersebut dengan mengatakan, ”Kamu jangan ikut ikut berpolitik. Itu akan membahayakan dirimu. Sudah sana Pergi !! Hati hati kalau bicara!”

Ajudan tersebut pergi dan menyebut, ”Bapak sudah dipengaruhi PKI.”

Begitulah kenyataan perilaku Soekarno yang sangat membela PKI, sebelum terjadi tragedi G30S/PKI tahun 1965. Tapi, sekarang ini, banyak eks Tapol PKI dan anak-anak PKI malah selalu menyebut Soeharto terlibat dalam G30S/PKI.

Saat ini, ada salah satu anak Soekarno malah membela PKI. Barangkali, pendapat dan pemikirannya yang membela PKI, didapatkan dari orang tuanya, dan terwariskan hingga sekarang ini. Bahkan, penulis sempat bertemu dengan tentara yang bertugas menjaga Eks Letkol Untung di Rutan Militer, Untung selalu berteriak teriak dalam ruang tahanan. Untung selalu mengatakan, bahwa dirinya akan dibebaskan Soeharto. Tetapi, hingga detik ini, baik PKI dan maupun anak anak PKI, tidak ada satupun yang bisa membuktikan dengan gamblang, fakta sejarah keterlibatan Soeharto.

Pada masa lalu, dalam suatu kesempatan, Soeharto pernah bercerita, betapa sulitnya hidup sebagai tentara, terlebih sebagai perwira TNI AD, pada masa diberlakukannya NASAKOM. Saat itu, Polisi mendapat peran sebagai kekuatan utama dari BIN, TNI AL, sebagai kekuatan PASPAMPRES. Sedangkan TNI AU mendapat peran untuk menyiapkan satuan sebagai Angkatan Ke V yang terdiri dari Buruh Tani Bersenjata, termasuk di dalamnya adalah Gerwani. Sedangkan TNI AD hanya diberi peran untuk menggunakan senjata, dalam konteks sosial.

Saat itu, Soeharto sempat menceritakan bahwa perwira tinggi Angkatan Darat banyak difitnah dan didiskreditkan. Sehingga, di mata rakyat, TNI AD adalah biang keributan dan sumber konflik. Keadaan itu diperparah dengan benturan sikap antara Soekarno dan Angkatan Darat, ketika menentukan musuh bagi Bangsa Indonesia. Soekarno menganggap China sebagai teman, sedangkan Angkatan Darat menganggap China sebagai musuh.

Dengan berbagai posisi rumit tersebut, Soeharto harus memilih untuk memposisikan dirinya. Dalam posisi tersebut, Soeharto memilih posisi netral. Sebelum pengkhianatan G30S/PKI terjadi, terhadap beberapa anggota PKI, Soeharto bersikap baik. Ketika ada anggota TNI yang menjadi anggota PKI, khususnya kepada Letkol Untung, Soeharto pun bersikap baik. Bahkan, Soeharto bersikap sangat baik terhadap Bung Karno, sekalipun secara pemikiran ada perbedaan. Namun, Soeharto selalu hormat kepada Soekarno.

Menurut kajian yang saya lakukan, pernah dalam suatu kesempatan, Soeharto mengatakan, ”Jika saya bermusuhan secara terbuka dengan PKI, tentu saya akan ditarget untuk dibunuh, sebagaimana yang terjadi kepada Jenderal Yani dan Nasution.”

Pada lain kesempatan, Soeharto mengatakan, ”Bahkan, saat itu, di masa Nasakom, untuk menunjukkan sikap netral saya, Pernikahan Letkol Untung di Purwokerto pun saya hadir.”

Dalam analisa saya, peristiwa G 30 S/PKI terbagi dalam tiga babak peristiwa yang disebut prolog, peristiwa, dan epilognya.

Babak pertama prolog, terdiri dari berbagai propaganda, agitasi PKI, intimidasi terhadap umat muslim NU, serta beberapa Tokoh Nasional, dengan menghembuskan isu komunisto phoby.

Babak kedua, yaitu peristiwa, ditandai dengan pembunuhan para Jenderal TNI AD yang gugur sebagai Pahlawan Revolusi 1965.

Sedangkan berkaitan dengan epilognya adalah penindakan terhadap anggota PKI yang berkhianat, proses hukumnya, serta operasi penumpasannya. Termasuk, pembelaan Soekarno terhadap anggota PKI, dan pengkamuflaseannya.

Dalam tinjauan saya, kebusukan komunisme pada tahun 1965, yaitu ketika PKI ingin Mengganti Pancasila, Soekarno Mengingkari Pancasila, PKI akan mengubah Sendi Kehidupan, serta Politik PKI Adalah Menang dan Kalah.

SOEKARNO, SOEHARTO DAN KOMUNISME

Bagaimana logikanya, Soeharto dituduh terlibat dalam PKI? Selama ini, sejarah menulis, bahwa Soeharto paham dan mengerti, serta terpaksa bersikap baik dengan komunis. Saya juga yakin, Soeharto cukup tahu tentang kegiatan PKI. Mengingat, dalam berbagai kegiatan, Soeharto berada di tengah-tengah pemerintah dan PKI. Artinya, saat itu, sebelum G30S/PKI, Soeharto masih dapat diterima dan tidak dicurigai sebagai lawan membahayakan bagi PKI.

Dari berbagai penjelasan Tapol PKI yang diwawancara oleh penulis, para PKI mengatakan, saat itu, Soeharto sikapnya membingungkan, sehingga keluar pertanyaan, ”Sebenarnya Soeharto mau ikut Siapa?”

Ketika ditanya demikian oleh para PKI, Soeharto menjawab, ”Ketika aku ditanya seperti itu, saya jawab, saya punya pemikiran sendiri.”

Dari dua dialog di atas, maka dapat kita simpulkan, Soeharto adalah seorang yang cerdik dan pandai.

Andaikata saat itu, Soeharto terseret dalam kegiatan pengkhianatan G30S/PKI, bisa jadi tidak ada Supersemar. Bahkan, tidak akan ada konflik antara pemerintah, rakyat, dan mahasiswa. Bisa jadi, tidak ada pergantian Presiden, sekalipun sistem pemerintahan berubah. Sangat dimungkinkan, ketika Soekarno tidak lengser, kepemimpinan bangsa ini akan sama dengan kondisi Kamboja yang sangat Komunis. Saat itu, Sihanouk yang berkuasa, sampai diungsikan ke China. Demikian pula di Indonesia, ketika PKI dan Komunis berkuasa, Soekarno diungsikan ke China. Dan konsep itu disebut dalam beberapa dokumen yang ditulis PKI.

Menurut saya, Soekarno sendiri jelas keterlibatannya dan keberadaannya dalam G 30 S/PKI. Soekarno tidak bisa mengelak tuduhan ataupun menghindar dari permasalahan ini. Kondisi ini semakin nyata, manakala peristiwa G30S/PKI dan pelakunya, tidak ditindak dan diproses hukum oleh Presiden Soekarno.

AIR PANAS TOMMY DAN SOEHARTO SEBAGAI PENYELAMAT BANGSA INDONESIA

Dalam perspektif saya, Tuhan menganugerahkan kepada seseorang, kelompok, bangsa, dan negara, dengan cara yang ajaib dan tidak terselami. Kalau kita tilik perjalanan hidup bangsa Indonesia, tidak lepas dari apa yang disebut anugerah dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Dengan berkah dari Tuhan, Bangsa Indonesia mampu mengatasi masalah pemberontakan PKI di Madiun 1948, upaya Separatis, Konfrontasi Malaysia, Pengembalian Papua, dan Permasalahan dengan PKI tahun 1965.

Pertanyaannya, apa hubungannya antara air panas dan Tommy Soeharto dalam penyelamatan bangsa Indonesia? Menurut saya, di balik tragedi kecil ketika Tommy Soeharto kena tumpahan air panas, terdapat anugerah keselamatan yang luar biasa bagi Soeharto. Di balik kesusahan, selalu tersimpan kemudahan. Begitulah rahasia misteri Tuhan yang tak pernah bisa dipecahkan dan diduga oleh manusia.

Saya pernah melihat sendiri ada orang yang bahagia atas kesialan yang menimpanya. Suatu ketika, ada dua orang anggota TNI AD, yang satu berpangkat Lettu dan yang satu berpangkat Kapten. Keduanya mengajukan izin cuti tahunan kepada Komandannya, dan ingin pulang ke Sulawesi Utara, tempat asalnya.

Si Kapten akhirnya diizinkan, karena alasannya jelas, sehingga persetujuan langsung didapatkan. Sedangkan yang berpangkat Lettu ini ditentang keras oleh komandannya, karena alasan untuk cuti tidak jelas dan terkesan ngarang cerita. Selama empat hari, si Perwira berpangkat Lettu ini selalu merayu komandannya untuk diberi izin cuti. Tapi, izin cuti tetap tidak didapat.

Kemudian, tibalah saat untuk pemberangkatan. Maka, Perwira berpangkat Lettu ini menyerah dan mempersilakan temannya untuk pergi. Tetapi, keesokan harinya, si Lettu ini malah menangis dan berteriak keliling asrama, sembari mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Sebab, kalau saja dia ikut berangkat bersama si Kapten, maka, ajal akan menjemput. Bahkan, jasad si Kapten pun tidak diketemukan, karena pesawat ADAM AIR yang ditumpangi raib, dan hingga kini belum juga ditemukan.

Kita bisa mengembangkan analogi yang sama, ketika peristiwa terkena tumpahan air panas menimpa Tommy Soeharto, sebagai anak dari Presiden Soeharto yang baru berumur kurang dari tiga tahun pada tahun 1965. Saat itu, tentunya, Tommy masih lucu, tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar. Anak kecil belum tahu mana yang baik dan mana yang buruk.

Saat itu, Ibu Tien Soeharto menginginkan anaknya bisa makan sendiri. Namun, ternyata, niat baik itu berujung masalah. Sebab, saat makan sendiri, Tommy malah menyenggol mangkok berisi Sop panas yang menyiram sebagian tubuhnya.

Karena begitu sayangnya Ibu Tien dan Soeharto terhadap Tommy, maka Tommy yang tersiram sop panas langsung segera dibawa ke RS Tentara Gatot Subroto (RSGS). Akibat luka tersebut, Tommy kecil harus dirawat inap hingga beberapa hari. Sampai menjelang terjadinya pengkhianatan G30S/PKI, Tommy belum diperbolehkan pulang. Selepas Dinas pada tanggal 30 September 1965 saat itu, karena tidak ada tugas khusus, Soeharto langsung menuju RSGS, dan terus menunggui Tommy hingga sembuh.

Musibah kecil atas Tommy saat itu, merupakan malam yang menyelamatkan. Sejak masuk rumah sakit karena terkena tumpahan Sop panas, Tommy tidak pernah tidur tenang, selalu ingin dipeluk Ibu, serta selalu ingin ditunggui Bapaknya. Sehingga, Soeharto tidak bisa lepas meninggalkan Tommy dari tempat tidurnya.

Malam itu, tanggal 30 September 1965, pukul 21.05, datang seorang perwira tinggi TNI AD yang bernama Brigjen Sabur dan didampingi anggota menemui Soeharto di rumah sakit. Sabur sempat mengajak Soeharto untuk ikut serta, melakukan kegiatan malam yang akan segera dilaksanakan.

”Kamu mau ikut atau tidak?” tanya Sabur kepada Soeharto. Namun, Sabur tidak menjelaskan gerakan apa.

Langsung saja Soeharto menolak dengan tegas bahwa dirinya tidak mau ikut. Bahkan, Soeharto menggambarkan setengah dipaksa untuk ikut. Namun, Ibu Tien memiliki naluri dan gerak hati yang kurang nyaman, sehingga tangan Ibu Tien memegang erat pinggang Soeharto untuk tidak ikut pergi. Dari peristiwa inilah, Ibu Tien dinilai sebagai bagian dari kekuatan kepemimpinan Soeharto, dalam kedudukan Soeharto sebagai Presiden. Pernyataan ibu Tien kemudian benar, bahwa yang ia khawatirkan terjadi. Terbukti, PKI melakukan pengkhiantan.

“Untung saja, Bapak nurut nasehat saya dan tidak ikut ajakan Sabur. Seandainya saja Bapak ikut, tentu cerita akan menjadi lain. Perjalanan sejarah bangsa tidak akan seperti sebagaimana yang kita rasakan sekarang ini. Bisa saja, Indonesia Indonesia tidak seperti sekarang. Untung saja anakku masuk rumah sakit! Inilah anugerah di balik musibah yang saya terima itu,” kisah Ibu Tien dengan gamblang.

KEUNIKAN PERJALAN HIDUP

Setelah sekian lama berselang, Tommy sudah besar, peristiwa itu selalu terkenang. Terlebih, ketika pemutaran film G30S/PKI dan peringatan Hari Kesaktian Pancasila dilakukan. Tidak pernah lupa, Ibu Tien dan Pak Harto selalu mengingat peristiwa Tommy dan kena tumpahan air panas ini. Peristiwa Tommy terkena tumpahan sop panas, merupakan bagian hidup untuk bercermin dan selalu mengucap syukur.

Dalam hidup ini, pasti ada suka dan tidak suka. Karena itu, dalam kehidupan setiap manusia memiliki pernik dan keunikan yang menghiasinya. Soeharto dan kehidupannya juga memiliki hiasan hidup itu. Yaitu sebuah peristiwa yang menjadi pelajaran hidup, agar kita selalu bertakwa dan beriman kepada Tuhan Yang Mahasa Kuasa dan Pencipta.

Terlepas dari senang atau atau tidak senang, Soeharto mendapat anugerah dari peristiwa Air panas ini, sehingga dapat mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia, menyelamatkan Pancasila dan kebiadaban PKI. Hal ini justru membuktikan kebenaran ramalan Soekarno. ”Soeharto akan menjabat lebih dari Gubernur. Bahkan, Soeharto akan menggantikan dirinya menjadi Presiden,” kata Soekarno.

Mungkinkah tanpa semangkuk Sop panas yang tumpah, Indonesia akan selamat dan memiliki pembangunan yang luar biasa? Semua itu hanya Tuhan yang tahu. Tetapi, sebagaimana yang kita lihat dan kita rasakan, Soeharto tampil sebagai Bapak pembangunan Indonesia. Sebuah gelar yang abadi dan lestari sepanjang abad dan sepanjang masa.

Dari ulasan di atas, kita dapat memahami arti Anugerah dan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, sebuah kesalahan besar bila kita hidup meninggalkan atau menyepelekan Tuhan dan ajaran Agama. Tetapi, keimanan kita sebagai bangsa dan insan yang bertakwa, harus kita pupuk dan pelihara agar hidup kita aman, tentram, tenang, dan sejahtera.

Peristiwa sekecil apapun yang terjadi dalam hidup kita, pasti ada hikmahnya, dihadapkan dengan kondisi sekarang ini, di mana kehidupan kebangsaan kita yang gaduh dan bermasalah, bukan sebuah hambatan atau ketidakpedulian Tuhan kepada bangsa Indonesia. Tetapi, semua itu terjadi untuk memberi pelajaran kepada kita agar mau belajar dan mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan.

Sikap Atheis tidak tepat bagi kebangsaan Indonesia. Sikap anti Atheis harus kita pertahankan dan kita abadikan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Agar bangsa Indonesia tidak jatuh dalam permasalahan yang sama, sebagaimana yang pernah dialami oleh orang tua kita dulu. Upaya yang perlu dilakukan, yaitu belajar sejarah dan memahami keimanan dalam hidup kita sebagai manusia.

Eko Ismadi adalah Pemerhati Sejarah

Lihat juga...