2017, DBD di Yogyakarta Turun 383 Kasus
YOGYAKARTA – Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Yogyakarta sepanjang tahun 2017 ini mengalami penurunan cukup signifikan.
Hingga bulan Oktober 2017 ini tercatat baru ada sebanyak 383 kasus dengan 2 kasus kematian akibat DBD terjadi di Yogyakarta. Padahal sebelumnya tahun 2016 lalu kasus DBD mencapai 1.705 kasus dengan angka kematian mencapai 13 kasus.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia, menuturkan, menurunnya jumlah kasus tersebut besar kemungkinan salah satunya dipengaruhi adanya program penyebaran nyamuk berwolbachia yang disebar di 12 wilayah di kota Yogyakarta sejak pertengahan tahun lalu. Penyebaran nyamuk berwolbachia masih berlangsung hingga akhir tahun 2019 ini.
Meski menjadi salah satu faktor, Yudira Amelia belum berani menyimpulkan, penurunan jumlah kasus DBD tersebut semata-mata berkat program Eliminate Dengue Project (EDP) UGM. Menurutnya, penurunan kasus DBD juga dipengaruhi faktor cuaca dimana curah hujan yang turun pada tahun ini tidak begitu merata sepanjang musim, jika dibandingkan pada tahun 2016 lalu.
“Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini hasil dari EDP, apalagi penelitian ini masih berlangsung. Kalau kita lihat hujan yang turun tahun ini tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kira bisa menjadi faktor menurunnya kasus DBD,” katanya di UGM, Jumat (10/11/2017).
Peneliti Eliminate Dengeu Project (EDP) UGM, dr. Riris Andono Ahmad mengatakan, sejak pertengahan tahun lalu, tim EDP sendiri telah menyebarkan 5000 ember yang berisi nyamuk berwolbachia di 430 titik di 12 wilayah di kota Yogyakarta. Pihaknya juga mengaku telah menyebarkan perangkat nyamuk di setiap titik tersebut untuk mengetahui prosentase jumlah nyamuk yang sudah mengandung wolbachia.
Menurut Doni, perangkat nyamuk tersebut berfungsi untuk mengumpulkan nyamuk dalam jumlah besar. Setiap minggunya, nyamuk yang terperangkap dalam sebuah tabung akan diambil oleh tim peneliti untuk sampel pengujian nyamuk yang sudah mengandung wolbachia.
“Untuk wilayah Tegalrejo dan Wirobrajan hingga saat ini jumlah nyamuk berwolbachia cukup tinggi dan stabil, sekitar 90-an persen dari total seluruh nyamuk di sana sudah mengandung wolbachia,” ujarnya.
Doni menambahkan, pihaknya juga telah menempatkan 18 relawan yang ditempatkan di 18 puskesmas untuk mendata pasien yang kemungkinan terserang penyakit DBD. Data tersebut, menurut Doni, sangat berpengaruh dalam penelitian nyamuk berwolbachia. Pengalaman yang mereka dapatkan sebelumnya di wilayah Sleman dua tahun lalu menunjukkan bahwa pasien yang terkena DBD umumnya terjangkit dari wilayah lain yang belum disebar nyamuk wolbachia.
“Hipotesis kita, kalau pun ada kasus, sebagian besar kasus itu datang dari wilayah yang belum ada nyamuk wolbachia,” ujarnya.
Penyebaran nyamuk wolbachia sendiri dilakukan sebagai metode terbaru mengatasi penyebaran penyakit DBD yang ditularkan nyamuk Aedes aegypty. Adanya nyamuk Aedes Aegeypty berwolbachia ini berfungsi mencegah virus dengue berkembang-biak di dalam nyamuk. Dengan begitu nyamuk tak bisa menyebarkan virus mematikan ke manusia.