Tinggal 15 Orang, Perajin Genteng Tradisional di Ndemi Bendo
YOGYAKARTA – Sejak puluhan tahun silam, Dusun Ndemi Bendo, Wukirsari, Imogiri, memang dikenal sebagai daerah penghasil genteng keripik dan wuwung di kawasan Kabupaten Bantul. Hampir seluruh warganya bekerja sebagai pembuat genteng tradisional secara turun-temurun.
Namun seiring perkembangan zaman, munculnya genteng pres buatan pabrik, membuat industri rumah tangga pembuatan genteng keripik dan wuwung di Dusun Ndemi Bendo, semakin terpinggirkan. Selain kalah bersaing, minimnya ketersediaan bahan baku menjadi alasan perajin meninggalkan pekerjaannya.
“Dari sekitar 300 perajin genteng tradisional yang ada di dusun ini, sekarang tinggal 15 orang saja. Itupun mayoritas sudah berusia tua. Umurnya 50 tahun ke atas. Sudah tidak ada anak muda yang mau membuat genteng,” ujar salah seorang warga sekaligus perajin genteng keripik, Walidi (66).
Diungkapkan Walidi, berbagai kendala yang dihadapi perajin genteng, membuat generasi muda di dusunnya memilih bekerja menjadi buruh di kota. Ada pula kaum muda yang memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, dibanding menjadi perajin genteng di desanya.
“Dulu semua warga disini, baik lelaki ataupun wanita bekerja sebagai pembuat genteng. Saya sendiri sudah ikut membuat genteng sejak kecil. Bapak dan simbah saya juga sudah membuat genteng di dusun ini secara turun temurun,” katanya.
Salah seorang perajin genteng lainnya, Jayadi (54) mengungkapkan hal serupa. Ia bahkan mengaku sebagai seorang perajin genteng termuda yang masih tersisa di dusunnya saat ini. Sementara para perajin lainnya mayoritas sudah berusia di atasnya.
“Perajin genteng yang usianya lebih muda dari saya sudah tidak ada. Saya yang paling muda. Jadi kalau generasi saya habis, ya mungkin sudah tidak ada lagi pembuat genteng disini. Karena generasi muda, termasuk anak saya sendiri memilih bekerja di kota dibandingkan meneruskan usaha ini,” katanya.
Pihak pemerintah dikatakan telah berupaya membantu para perajin tradisional di dusun ini. Mulai dari memberikan pelatihan, pendampingan, bahkan hingga memberikan bantuan modal mesin pres genteng agar meningkatkan daya saing para perajin. Namun nyatanya hal itu tak banyak berpengaruh.
“Kita memang pernah dibantu mesin pres. Tapi setelah coba bikin genteng pres, ternyata hasilnya tak seberapa. Untuk beli tanah liatnya saja mahal. Sehingga kita tetap memilih membuat genteng keripik secara tradisional. Walau hasilnya tak seberapa tapi lumayan,” katanya.
