Rujak Tumbuk Khas Betawi

JAKARTA — Olahan rujak buah di Indonesia sangat beragam. Salah satu yang unik adalah rujak bebek atau bebeg atau beubeuk. Istilah ini merujuk pada proses pembuatan rujak, yaitu dengan cara dibebek atau ditumbuk hingga agak halus. Rujak tumbuk merupakan rujak buah khas orang Betawi.

Agus, penjual rujak tumbuk -Foto: M Fahrizal

Agus (39), penjual rujak tumbuk keliling menceritakan, untuk memulai menjalankan usaha ini diperlukan modal awal sekitar Rp700 ribu dengan rincian pembuatan tempat buah beserta alat pikulnya, serta alat tumbuk yang disebut juga lesung atau alu kecil. Baru 3 tahun dirinya bergelut menafkahi anak dan istrinya dengan berjualan rujak tumbuk.

Untuk modal sehari-hari membeli buah yang dibutuhkan, dirinya mengeluarkan uang sebesar Rp150ribu, dan bila rezekinya lagi bagus dalam artian dagangan habis, dirinya bisa membawa uang sebesar Rp400 ribu. Buah segar yang dipergunakan untuk rujak tumbuk di antaranya pisang batu, jambu batu, mangga, jambu air, bengkoang, kedondong, ubi, nanas, dengan bumbu yang dipergunakan, yakni garam, terasi, cabai rawit, cabai merah, dan gula merah.

Dirinya menceritakan, proses pembuatan rujak tumbuk, yakni buah dikupas dan dipotong kecil-kecil, kemudian dimasukkan ke dalam lesung atau alu kecil dari kayu bersama bumbu, setelah semuanya berada dalam lesung, barulah dirinya menumbuk semua buah hingga terlihat hampir halus alias masih sedikit tersisa tekstur buah asli.

Sedangkan mengenai tingkat kepedasan, pembeli bisa menentukan sesuai selera. Nanti dirinya akan menyesuaikan jumlah pemakaian cabai yang diinginkan pembeli. Harga satu porsi rujak tumbuk Rp5.000.

Menurutnya lagi, yang menjadi daya tarik serta keunikan dari rujak tumbuk yakni proses pembuatannya. Namun, yang menjadi ciri khas dari rujak tumbuk yaitu terletak pada wadah sajinya berupa pincuk daun pisang berukuran mungil dengan sendoknya juga dibuat dari lipatan daun pisang. Ini yang membuat aroma dan rasa rujak semakin enak, karena harum alami daun pisang.

Namun sayang, dirinya sudah tidak lagi menggunakan wadah daun pisang, tetapi menggunakan mika (wadah yang terbuat dari plastik) sebagai wadah rujak tumbuk. Penggunaan mika ini memang sudah banyak dilakukan para pedagang rujak tumbuk, seperti halnya dirinya, hampir rata-rata beralasan lebih memilih cara praktis dan gampang dalam penyajian rujak tumbuk.

“Jika mau ngerasain makan rujak tumbuk dengan wadah daun pisang, masih ada yang tidak menghilangkan ciri khas itu, di daerah Pasar Cikini kalau tidak salah, dan memang sudah dikenal enaknya itu rujak khas Betawi ini. Saya mengetahui lokasinya karena memang pada waktu itu ingin tahu resepnya,” katanya, Sabtu  (7/10/2017).

Lihat juga...