Resi, Angkat Perekonomian Keluarga dari Rumah
KEDIRI – Pilihan menjadi ibu rumah tangga, ternyata tidak menyurutkan Resi Pawestri Sukma Asmara (25) untuk tetap bekerja membantu perekonomian keluarga. Ia pun bersama keempat rekannya membuka jasa pembuatan suvenir maupun undangan pernikahan. Untuk suvenir dari harga Rp2 ribu, sedangkan undangan blangko mulai dari Rp1,5-Rp15 ribu.
Resi, sapaannya, membuka usaha ini sejak tahun 2014 lalu dan dipasarkan melalui media sosial instagram ‘resipawestri’. Selama ini pesanan paling banyak datang dari kota Kediri. Namun, Resi juga mengirim suvenir ke beberapa kota di Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung, Blitar, Gresik, Mojokerto, Bojonegoro dan Banyuwangi.
“Kami menyediakan jasa untuk suvenir pernikahan, undangan bahkan juga jasa hias hantaran,” jelasnya kepada Cendana News, Selasa (3/10/2017).
Alumni Universitas Brawijaya ini menambahkan segala macam permintaan konsumen sebisa mungkin dicarikan. Mulai dari segala macam souvenir mulai dari bahan pecah belah, bahan baku kayu, tanah liat, tas, sandal, handuk dan lain sebagainya.
“Ada juga undangan blangko, undangan dengan design sendiri, harga menyesuaikan ukuran dan kertas,” cakapnya.
Warga Desa Karangtalun, Kecamatan Kras ini selalu memberikan syarat tiap kali pemesanan minimal order mulai 50 piece dan maksimal pemesanan dua minggu sebelum acara. Bahan yang digunakan untuk membuat mahar di antaranya pigura, uang mainan, karpet/flanel, lem lilin, aplikasi bunga yang lain menyesuaikan pesanan.
“Kalau souvenir tergantung permintaan,” terangnya.
Resi juga mengakui saat menjalankan usahanya ini juga ditemui kendala misalnya saat pesanan harus didatangkan dari luar kota Kediri. Kabar dari ekspedisi sering telat atau bahkan tidak ada kabar.
“Akhirnya solusinya selama ini, kalau mau pesan souvenir yang unik minimal dua bulan sebelum acara,” tandasnya.
Selain itu juga paling kewalahan kalau pesanan souvenir banyak saat pembuatan pita. Soalnya, Resi tidak menggunakan pita kecil dari pabrik, tapi pitanya dibuat sendiri. Usaha ini belum bisa berkembang secara maksimal karena kesulitan tenaga kerja.
“Karena bagi kami, souvenir tidak sekedar dikemas, tapi juga diperhatikan kesan mewah dan elegan. Boleh dibandingkan harga dengan yang lain, tapi juga harus melihat kemasan yang dibuat,” tukasnya.
Resi menambahkan pesanan paling banyak datang di bulan Dzulhijah atau saat musim menikah. “Untuk bulan-bulan biasa masih sewajarnya,” pungkasnya.
