BEIJING – Wakil Dekan Eksekutif di Sekolah Administrasi dan Kebijakan Publik Renmin University of China di Beijing Guangjian Xu mengatakan Belt and Road Initiative (BRI) berdampak pada perluasan pasar antarnegara sehingga meningkatkan ekonomi regional.
“Penting untuk mempromosikan kolaborasi dan pertukaran antara Tiongkok dan negara-negara sepanjang rute sabuk dan jalan yang diusulkan, dan membuka pasar untuk meningkatkan ekonomi regional,” kata Guangjian, saat memberikan kuliah umum di Renmin University of China, Beijing, Tiongkok, Jumat (27/10/2017).
Dia menuturkan inisiatif tersebut telah dirancang untuk meningkatkan aliran bebas dan teratur antara faktor-faktor ekonomi dan alokasi sumber daya yang efisien. Profesor tersebut menuturkan membangun kerja sama antara Tiongkok dan negara-negara yang dilalui rute sabuk dan jalan di bawah BRI akan memacu perkembangan tiap negara dan kawasan.
Belt and Road Initiative adalah kebijakan mengacu pada Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt) dan ekonomi sabuk dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21. Sebuah strategi perkembangan yang signifikan diluncurkan oleh Pemerintah China dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi antara negara-negara sepanjang rute sabuk dan jalan yang diusulkan.
“Inisiatif ini juga ditujukan untuk mendorong integrasi pasar lebih lanjut dan menciptakan kerangka kerja sama ekonomi regional yang bermanfaat bagi semua pihak,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi erat antara Tiongkok dan Indonesia serta negara-negara lain di bawah kerangka BRI menjadi hal yang penting untuk dilakukan untuk mendukung inisiatif tersebut. Guangjian telah menerbitkan beberapa buku dan sekitar 100 makalah dan artikel tentang kebijakan ekonomi Tiongkok di jurnal akademik dan surat kabar di Tiongkok dan luar negeri.
Sebelumnya, digagas oleh Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping pada 2013, BRI menawarkan sebuah upaya untuk memperluas peluang bagi pembangunan dan kesejahteraan bersama melalui kerja sama yang saling menguntungkan. Tiongkok berharap BRI bisa dipahami sebagai strategi kerja sama regional untuk kawasan Eurasia dan Afrika, serta bukan sekadar proyek konektivitas yang justru lebih dikenal dengan istilah One Belt One Road (OBOR).
“Saya ingin menggarisbawahi bahwa strategi ini tidak hanya mencakup One Belt atau One Road saja, tetapi merupakan platform kerja sama regional,” kata peneliti senior Akademi China untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Ekonomi Zhang Jianping.
Sebagai model baru kerja sama internasional dan globalisasi inklusif, BRI mengusung konektivitas sebagai kata kunci dalam berbagai sektor seperti perdagangan, pembangunan infrastruktur serta relasi antarmanusia.
“Ini adalah kombinasi strategi Barat dan Timur, bahkan lebih baik daripada perjanjian perdagangan bebas yang terlalu Barat dan jauh dari kawasan kita,” kata Jianping. (Ant)