Yanne Ubah Bulu Angsa Jadi Kerajinan yang Bernilai Ekspor

MALANG — Bulu angsa selama ini umumnya hanya digunakan sebagai bahan pembuatan shuttlecock. Namun siapa sangka, ditangan kreatif Yanne Pribowo sisa limbah pembuatan shuttlecok juga bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan yang menarik dan banyak diminati konsumen dari mancanegara.

Diceritakan, sejak tahun 2001, Yanne mulai menekuni kerajinan berbahan bulu Angsa dengan merek Zahra Mandiri. Berbagai jenis bentuk telah berhasil ia buat, mulai dari bentuk Kupu-kupu, bunga dan capung.

“Awalnya teman saya punya usaha shuttlecok, disana saya lihat banyak limbah bulu angsa yang terbuang. Dari situ kemudian saya berfikir kalau limbah tersebut dibuat kerajinan pasti hasilnya akan bagus,” kisahnya saat ditemui Cendana News di rumahnya yang berlokasi di jalan Tepus Kaki, kota Malang, Selasa (3/9/2017).

Aneka kerajinan dari bulu Angsa/Foto: Agus Nurchaliq

Lebih lanjut Yanne mengatakan, bentuk pertama kali yang ia buat adalah bentuk bunga. Namun sayang kurang diterima pasar. Ia kembali berkreasi dengan membuat bentuk Kupu-kupu dan kali ini banyak diminati konsumen, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kerajinan dari bulu angsa terutama yang berbentuk kupu-kupu sudah sering kita kirim ke luar negeri seperti ke Thailand, Singapura, Malaysia, Australia dan terakhir pernah dikirim ke Venezuela,” akunya.

“Bahkan tempat wisata Dunia Fantasi dan Taman Mini Indonesia Indah juga pernah pesan kerajinan berbaha bulu Angsa dari saya,” sambungnya.

Disebutkan, ia membandrol hasil kerajinan bulu angsa mulai dari harga 1.500 hingga dengan 400 ribu Rupiah. Untuk harga Rp1.500, Yanne memberikan minimal pesanan 100 biji.

“Kerajinan bulu angsa ini biasanya digunakan untuk sovenir, dekorasi ruangan hingga dekorasi pernikahan. Sekali even pernikahan biasanya pesanannya bisa sampai enam ribu biji dengan bentuk dan ukuran yang bermacam-macam,” terangnya.

Agar bisa  mengenalkan produknya kepada konsumen, Yanne sering mengikuti pameran di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, hal tersebut menjadikan kualitas produknya lebih dikenal masyarakat.

Kerajinan bulu Angsa berbentuk Kupu-kupu/Foto: Agus Nurchaliq

Sementara itu, adanya persaingan Masyarakat Ekonomia Asean (MEA), ia sama sekali tidak merasa khawatir. Yanne tetap optimis produk kerajinannya tidak akan kehilangan konsumen.

“Produk kerajinan saya ini unik, bahkan bisa dibilang pesaingnya masih sedikit. Meskipun ada pesaing, tapi dari segi kualitas dan harga masih bagus produk saya. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” ungkapnya yakin.

Sementara itu, selain membuat kerajinan dari bulu Angsa, Yanne juga mulai memproduksi bentuk kupu-kupu dari daun dan stoking.

Lihat juga...