Sri Syalwati, Olah Sampah Plastik jadi Bernilai Ekonomi
MALANG – Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan terutama sampah bungkus plastik yang sulit terurai, serta berbekal keterampilan dalam menjahit, Sri Syalwati memutuskan untuk mengolah limbah sampah tersebut menjadi aneka produk kerajinan bernilai ekonomi, di antaranya tas, dompet, tempat pensil, dan tempat sampah.
Sri Syalwati menceritakan, semasa masih tinggal di Surabaya suaminya yang kini sudah almarhum, sempat mengikuti pelatihan menjahit daur ulang sampah di Jakarta. Dari situ kemudian suaminya diminta untuk mengelola limbah sampah di salah satu daerah di Surabaya. Sekaligus mengajarkan ibu-ibu di sana cara memanfaatkan limbah sampah kemasan plastik.
Namun setelah beberapa lama, akhirnya diputuskan untuk pindah ke Malang dan membuat usaha pemanfaatan limbah plastik. Tujuan dibuatnya usaha tersebut tidak lain adalah untuk mengurangi sampah plastik khususnya yang ada di Kota Malang. Sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga.
Menurut Sri, sekarang banyak orang yang mengeluhkan keberadaan sampah plastik yang sulit terurai meskipun telah dikubur dalam tanah bertahun-tahun. Kalau sudah begitu, untuk mengatasi permasalahan limbah plastik, biasanya warga langsung membakar sampah-sampah plastik yang menumpuk.
“Padahal, dengan membakar sampah plastik, justru mereka dapat menimbulkan permasalahan baru yakni polusi udara,” jelasnya.
Lebih lanjut Sri menyampaikan, setelah pindah ke Malang dan menempati rumah yang berlokasi di Jalan Letjend Sutoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, almarhum suaminya kemudian bekerjasama dengan pemulung yang berada di belakang rumah untuk membeli sampah-sampah plastik. Terutama sampah kemasan plastik seperti bungkus kopi, bungkus sabun cuci, maupun bungkus pewangi pakaian.
Dalam sekali kulakan sampah, ia dan suami bisa mengambil 3-5 kuintal yang kemudian ia kumpulkan di depan rumahnya.
Akan tetapi, sayangnya, maksud baik sepasang suami istri ini untuk mengolah sampah plastik, pada saat itu tidak mendapatkan respon positif bahkan terjadi penolakan dari warga sekitar. Masyarakat berpikir kalau sampah itu barang yang kotor, bau dan menjijikkan.
“Banyak tetangga yang tidak suka dengan kegiatan saya yang berhubungan dengan sampah. Bahkan keluarga saya sendiri juga tidak mendukung. Jadi banyak sekali tantangan untuk meneruskan usaha ini,” akunya.
Karena lingkungan tidak mendukung, akhirnya Yunus dan Sri sempat pindah tempat lagi di daerah Singosari. Beruntung, di sana rumahnya ternyata dekat dengan sungai sehingga mereka lebih mudah untuk mencuci sampah.
“Tapi sayangnya kalau tinggal di Singosari jauh dengan konsumen. Jadi kita akali dengan cara sampah-sampah yang masih kotor kita cuci bersih di Singosari, kemudian setelah bersih kami bawa ke tempat awal di jalan Letjend Sutoyo agar tidak jauh dengan konsumen,” terangnya.
Seiring berjalannya waktu, warga yang dulu menolak keberadaan usaha pengolahan limbah plastik, perlahan mulai mengerti dan memahami bahwa apa yang dilakukan Yunus dan Sri adalah aktivitas yang positif karena mampu mengurangi jumlah sampah plastik. Tidak hanya itu, warga sekitar sekarang justru ikut membantu mengumpulkan sampah plastik.
“Alhamdulillah sekarang warga dan keluarga sudah mendukung aktivitas kami untuk turut melestarikan lingkungan agar bebas dari sampah,” ucapnya.
Sementara itu, untuk menjual hasil produknya, saat ini Sri bekerjasama dengan Bank Sampah Malang (BSM) dan juga menjual secara online dengan harga mulai dari Rp5 ribu sampai dengan Rp200 ribu. Selain itu, produknya juga sering diikutkan dalam acara pameran.
“Tapi kalau ikut pameran, saya tidak mengutamakan produk saya harus laku.
Saya hanya ingin masyarakat tahu kalau limbah sampah plastik bisa diolah menjadi produk-produk yang bernilai ekonomi dan bisa mereka gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Menurut Sri, saat ini usaha pengolahan limbah kemasan plastik juga sudah menjadi salah satu mata pencaharian.
“Dulu waktu sebelum Pak Yusuf meninggal, almarhum pernah mengatakan, kalau saya capek jangan diteruskan usaha ini. Tapi saya lihat peluangnya masih besar karena di Malang sendiri belum banyak yang memanfaatkan sampah. Selain itu saya juga masih ingin turut menjaga lingkungan agar tetap bersih,” ujarnya.
Atas dedikasi dan keahlian mengelola sampah plastik, Sri Syalwati kerap diundang untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Ia juga banyak mendapatkan sertifikat dan penghargaan.