Hari Batik Nasional, 72 Siswa Membatik Motif Balikpapan
BALIKPAPAN – Sedikitnya 72 siswa di Balikpapan hari ini melakukan kegiatan membatik tulis dengan motif Balikpapan dalam peringatan Hari Batik Nasional di Gedung Dome Balikpapan, Senin (2/10/2017). 72 siswa itu terdiri siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan di dalamnya juga melibatkan siswa disabilitas dari Sekolah Luar Biasa Kota Balikpapan.
Terlihat wajah mereka sangat antusias saat menggunakan canting untuk membatik pada kain yang sudah tersedia. Jemari tangan siswa-siswa ini sudah sangat lihat karena di sekolah juga terdapat keterampilan mencanting dan membatik.
Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan, batik merupakan warisan budaya yang harus dijaga dan digunakan sepanjang masa. Di seluruh daerah memiliki batik dan memiliki kekhasan masing-masing.
“Di Balikpapan sudah banyak batik yang dihasilkan dari industri UKM, ada batik Ampik, Shaho dan lainnya. Bahkan motif batik Balikpapan juga sudah banyak yang rata-rata bermotif tentang lingkungan yaitu motif Mangrove, Karamunting, Pesut, dan masih banyak lagi,” jelasnya saat peringatan Hari Batik Nasional di Balikpapan, Senin (2/10/2017).
Dia meminta seluruh instansi juga sekolah untuk menggunakan batik khususnya batik Balikpapan. Dengan menggunakan batik Balikpapan maka mempopulerkan batik lokal ke daerah lain.
Ketua Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kota Balikpapapan, Arita Rizal Effendi menuturkan, kerajinan batik saat ini tidak hanya sekadar dilirik saja tapi telah menjadi usaha pokok yang bisa menambah penghasilan ekonomi keluarga.
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada 5 rumah batik yang terus berkarya dan menampilkan motif-motif baru. Bahkan motif khas yakni Jahe Balikpapan juga telah dikembangkan,” kata Arita.
Rita mengaku kualitas batik yang dihasilkan oleh Kota Balikpapan juga tidak kalah dengan daerah lainnya. Hal itu terbukti saat ini perajin batik sudah menerima banyak pesanan kain batik.
“Kalau mereka sudah ‘pusing’ banyak orderan berarti hasil karyanya sudah berkualitas dan diakui sehingga taraf ekonominya juga meningkat,” tukasnya.
Dalam peringatan Hari Batik Nasional ini tidak hanya menampilkan 72 siswa membatik, tapi juga ada 72 UMKM yang memamerkan panganan olahan dan kerajinan tangan.
Original Rekor Indonesia (ORI) juga memberikan penghargaan kepada Arita Rizal Effendi sebagai Pelopor Batik Balikpapan dan Wali Kota sebagai Bapak Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif di Balikpapan.
Sementara itu, Menurut Presiden Original Rekor Indonesia, Agung Elvianto mengungkapkan, kolaborasi serba 72 antara Seni Budaya dan UMKM ini sangat menarik dan merupakan sejarah baru di Kota Balikpapan.
“Ini satu bentuk original yang sangat luar biasa, kita lihat UMKM bisa berkolaborasi untuk menunjukkan hasil karya panganan seperti sambal buah naga, brownis puding atau browding dan kerajinan tangannya. Begitu pula dengan 72 siswa yang membatik secara massal,” terangnya.
Dengan membatik yang melibatkan siswa ini, pihaknya berharap siswa dapat memiliki keahlian ketrampilan membatik untuk masa mendatang. Apalagi di dalam kegiatan ini juga melibatkan siswa disabilitas yang diharapkan juga dapat berkembang untuk mereka yang sudah lulus sekolah.
