YOGYAKARTA – Memasuki pergantian musim kemarau ke musim penghujan, sejumlah petani di Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, mulai menanam padi. Hal itu dilakukan setelah lahan yang sebelumnya mengering mulai teraliri air dari saluran irigasi, seiring turunnya hujan beberapa waktu lalu.
Salah satunya seperti dilakukan seorang petani, Jumadi, warga Dusun Cerme, Kelurahan Cerme, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo. Ia mengaku mulai menggarap lahan sawah miliknya seluas 1400 meter persegi begitu hujan pertama turun beberapa hari lalu.
Ia kemudian langsung menanam padi di awal musim penghujan untuk memanfaatkan waktu yang ada. Lahan pertanian miliknya sendiri menerapkan sistem surjan, tanah dibuat berundak. Yakni tanah bagian atas ditanami palawija sementara tanah bagian bawah ditanami padi.
“Selama kemaru kemarin, lahan mengering. Sehingga hanya menamam palawija saja di tanah bagian atas. Yakni cabai. Sementara tanah bagian bawah dibiarkan terbengkalai dan tidak dimanfaatkan alias puso,” katanya Senin (2/10/2017).
Seiring turunnya hujan dan saluran irigasi mulai mengalir, Jumadi dan petani lainnya di kawasan ini langsung menanam padi. Ia memanfaatkan tenaga buruh untuk menggarap lahan miliknya, termasuk menanam bibit padi secara manual.
“Untuk membajak sudah pakai traktor. Tapi untuk menanam masih menggunakan tenaga buruh, karena alat mesin tanam belum ada. Upah buruh satu hari Rp50 ribu. Biasanya untuk menanam padi seluas 1400 meter persegi butuh waktu 1 hari dengan tenaga 4 orang,” katanya.
Menerapkan sistem surjan, para petani di kawasan Cerme Panjatan Kulonprogo biasa menanam 4-5 jenis tanaman setiap tahun. Yakni tanaman palawija sepanjang tahun untuk tanah bagian atas seperti cabai, bawang merah serta jagung. Sementara lahan garapan bagian bawah biasa ditanami padi dan palawija, seperti kedelai atau kacang tanah.
“Kendala di sini biasanya adalah saat puncak musim hujan. Air dari irigasi kerap masuk ke lahan pertanian hingga membuat tanaman tergenang. Sementara saat kemarau, irigasi justru mengering,” katanya.
