Decoupage Ponorogo Digandrungi Semua Usia
PONOROGO — Seni decoupage tidak hanya melanda kota besar, namun juga digandrungi oleh semua kalangan di bumi reog. Seperti yang dilakukan oleh Damai Siwi Mulyani, ia memilih seni decoupage sebagai pengisi waktu luangnya usai resign dari tempatnya bekerja.
Pilihannya untuk menekuni decoupage ternyata membawa berkah tersendiri bagi keluarganya. Bagaimana tidak, karyanya ternyata diminati pasar. Tak jarang saat pameran, hasil karyanya selalu habis terjual.
“Untuk tas decoupage harganya Rp 80 ribu, sedangkan tas lukis harganya Rp100 ribu,” jelasnya saat ditemui Cendana News, Selasa (31/10/2017).
Meski ia tidak memasarkan produknya karena tidak adanya tenaga kerja. Hasil karyanya selalu laris manis saat pameran. “Mulai ikut pameran sejak 2010 lalu, Alhamdulilah laris,” ujar warga Jalan Rumpuk, Desa Ronowijayan, Kecamatan Babadan.
Ibu lima orang anak ini menambahkan seringkali menemui anak muda yang ingin belajar melukis ke rumahnya, namun karena tidak ada bakat akhirnya sebagai pelarian belajar decoupage.
“Ini kan tinggal menggunting dan menempel serta hasilnya ada nilai seni yang bisa dijual,” tandasnya.
Akhirnya terbukalah ide membuat pelatihan bagi anak-anak muda yang ingin belajar decoupage. Proses pembuatannya pun terbilang mudah hanya butuh beberapa jam saja.
“Asal bahannya siap bisa langsung berkreasi,” tuturnya.
Ia pun tak ambil pusing dengan tas anyaman, Siwi sapaannya, membeli tas anyaman dari Tasikmalaya sedangkan tissue yang digunakan untuk decoupage ia harus import dari Hongkong.
“Selebihnya tinggal kreativitas kita seperti apa, tinggal gunting, tempel dan dipernis,” pungkasnya.