SOLO – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah mengeluhkan kurangnya ketersediaan tenaga kerja di wilayah Solo dan sekitarnya.
Kondisi tersebut tidak seimbang dengan iklim investasi di Jawa Tengah yang makin baik dan berdampak pada besarnya kebutuhan akan tenaga kerja. “Kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah banyak masih menjadi polemik di Solo raya,” kata Wakil Ketua API Jateng Lilik Setiawan di Semarang, Selasa (10/10/2017).
Selama empat tahun terakhir iklim investasi di Jawa Tengah mulai tumbuh dengan angka yang cukup besar, yaitu 52,31 persen pertahun. Hal itu tidak lepas dari banyaknya perusahaan dari luar Jawa Tengah yang melakukan ekspansi ke Jawa Tengah khususnya di daerah Solo raya.
“Sebagian besar perusahaan ini bersifat padat karya, salah satunya perusahaan garmen,” katanya.
Kurangnya tenaga kerja tersebut tidak lepas dari banyaknya penduduk di usia produktif yang lebih memilih untuk mengadu nasib di kota besar seperti Jakarta dengan alasan upah yang lebih besar. Sementara di daerah, banyak perusahaan dari ibu kota yang melakukan pembukaan usaha.
“Banyak perusahaan dari DKI Jakarta pindah ke Jawa Tengah dengan alasan upah tenaga kerja yang masih kompetitif. Kalau begini kan mereka sama saja kesulitan saat mencari kerja di Jakarta,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya menyambut baik adanya program link and match yang diluncurkan oleh Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu. Program tersebut di sekolah-sekolah vokasi melahirkan tenaga kerja terdidik, terampil, dan sesuai dengan kebutuhan industri. “Dengan demikian lambat laun tenaga kerja akan tercukupi,” katanya. (Ant)