Musik Kampung di Sikka Mulai Digemari Anak Muda

MAUMERE – Permainan musik kampung, musik tradisional yang masih dipertahankan di kabupaten Sikka, dewasa ini mulai digandrungi menyusul maraknya musik kampung asal Nian Tana yang terkenal hingga mancanegara.

Bukan hanya lewat Orkestra Satu Sikka yang sudah mendunia, Sanggar Doka Tawa Tana serta beberapa sanggar lain yang mengusung permainan musik kampung sebutan bagi jenis musik ini mulai mendapat tempat di hati masyarakat kabupaten Sikka, bahkan kabupaten tetangga lainnya.

Untuk mendidik generasi muda untuk mulai mencintai musik kampung, SMPK Yapentom II Maumere pun mulai mengadakan kegiatan ekstrakurikuler sejak setahun lalu, dengan mengusung kelompok musik kampung agar ada regenerasi pemain musik ini.

“Kami ingin agar para pelajar juga mulai mencintai musik tradisional dan bisa memainkan alat musik ini, agar nantinya bisa menjadi bekal bagi mereka bila ingin bergelut di dunia kesenian,” ujar Lensi Sintu.

Salah seorang guru pendamping sanggar musik dan tari SMPK Yapentom II Maumere ini saat ditemui Cendana News usai acara launching Pilkada di kantor KPUD kabupaten Sikka, Rabu (4/10), mengaku senang menyaksikan permainan musik anak didiknya.

Para pelajar tersebut, ungkap Lensi, saat awal masuk sekolah disuguhkan formulir untuk diisi terkait minat dan bakat mereka, dan bila tertarik bermain musik, maka akan diikutsertakan dalam ekstrakurikuler musik.

“Selama seminggu sekali anak-anak dididik dan diasah kemampuannya bermain musik hingga dipilih beberapa orang yang mahir dan dibentuk kelompok musik kampung,” sebutnya.

Fin Kabaresi, guru SMPK Yapentom II Maumere, yang juga bertindak selaku peñata rias dan busana saat pementasan tari dan musik anak didiknya, mengakui musik kampung sengaja diperkenalkan kepada anak didik sejak SMP, agar mereka bisa mahir memainkannya saat beranjak dewasa dan bisa menerapkan kemampuan ini saat pentas musik kampung di desa atau mengikuti sanggar musik.

Musik kampung, jelas Fin, dimainkan oleh 8 orang yang terdiri atas berbagai alat musik seperti juk atau ukulele, gitar, bas betot, banjo, kulintang, suling, gong, gendang, cymbal dan lainnya yang dipadukan menjadi sebuah grup musik bercorak tradisional.

“Para pemain musik semuanya mengenakan sarung tenun ikat serta selain membawakan lagu-lagu daerah, musik kampung juga bisa membawakan lagu-lagu modern sesuai dengan permintaan para tamu yang hadir saat pementasan,” ungkapnya.

Para pemain musiknya pun bernyanyi sesuai lagu yang dimainkan, sehingga pemain musik juga harus mahir menyanyi sehingga pihaknya mengajarkan juga berbagai jenis lagu-lagu daerah, pop serta lagu lainnya yang sedang hits di tingkat lokal maupun nasional.

Tapi, sebagai pemula, lanjutnya, tentu para pelajar ini akan dibekali dengan lagu-lagu daerah serta sedikit lagu-lagu umum lainnya, sebab yang terpenting adalah mengasah kemampuan memainkan alat musik terlebih dahulu.

“Memang tidak mudah memainkan alat-alat musik yang tergolong susah seperti banjo dan bas betot, sehingga kami mulai mengajari mereka sejak usia remaja dan yang terpenting bisa menanamkan minat mereka terhadap musik tradisional,” tuturnya.

Lewat permainan musik kampung, sanggar dari SMPK Yapentom II Maumere menyabet juara pertama lomba musik tingkat SMP dan berhak mewakili kabupaten Sikka di Festival Lomba Seni Siswa Nasional tingkat provinsi dan mewakili provinsi NTT di lomba tingkat nasional tahun 2017 di Surabaya Agustus 2017, lalu.

Lihat juga...