Warga Desa Tridarmayoga Pertahankan Lumbung sebagai Penyimpanan Padi

LAMPUNG – Ratusan warga di Desa Tridarmayoga masih tetap mempertahankan penggunaan lumbung sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen masyarakat untuk dipergunakan pada masa paceklik serta menunggu masa panen berikutnya.

Kadek Sumerta (40) warga setempat mengungkapkan, sebagian warga di desa tersebut yang berasal dari wilayah Bali dan menetap puluhan tahun silam di Tridarmayoga merupakan petani dengan salah satu komoditas pertanian padi.

Sebagai generasi kedua yang tinggal di desa tersebut semenjak orang tuanya pindah merantau ke Lampung Selatan, lumbung padi telah dibuat dengan menggunakan jenis kayu tabu yang merupakan kayu bahan pembuat perahu dengan tingkat keawetan tinggi. Bangunan lumbung dengan ukuran 2 meter x 2 meter berdinding kayu, beratapkan genteng tersebut dibuat dengan sistem panggung dilengkapi pintu di bagian depan berikut tangga.

Lumbung padi, menurut Kadek Sumerta, diletakkan secara terpisah dari bangunan utama sekaligus memiliki kemampuan tahan cuaca, hama penyakit, serta memiliki kemampuan menahan gabah dalam waktu lama dengan sirkulasi udara yang baik. Keberadaan lumbung padi diakuinya membuat warga desa belum pernah mengalami paceklik bahkan selalu surplus dengan masih tetap bisa menyimpan gabah.

“Hampir setiap warga di desa ini memiliki lumbung sebagai tempat menyimpan padi hasil panen yang merupakan simpanan sebelum masa panen berikutnya sekaligus sebagai bibit,” terang Kadek Sumerta, salah satu warga Desa Tridarmayoga Kecamatan Ketapang saat berbincang dengan Cendana News, Jumat (15/9/2017).

Saat orang tuanya masih hidup lumbung padi yang bisa dipergunakan untuk menyimpan padi hingga dua ton tersebut juga kerap dipergunakan untuk menyimpan hasil pertanian berupa jagung, kelapa, jewawut atau sorgum serta hasil pertanian lain yang bisa disimpan dalam waktu cukup lama. Lumbung, diakui oleh Kadek Sumerta, sebagai solusi saat terjadi kelangkaan beras seperti pada musim kemarau yang mulai melanda di wilayah Lampung Selatan.

Sebelum perkembangan Desa Tridarmayoga yang sudah mengalami kemajuan di antaranya dengan banyaknya tempat penggilingan padi sekaligus tempat menyimpan padi, petani masyarakat setempat masih tetap mempertahankan lumbung padi. Keberadaan tempat penggilingan yang juga menyediakan fasilitas penyimpanan lebih luas diakui Kadek Sumerta juga belum mampu mengurangi fungsi dan keinginan masyarakat menyimpan padi di lumbung.

“Sebagian lokasi penggilingan padi sekaligus menyediakan fasilitas simpan pinjam padi. Menjadi tawaran menarik bagi petani yang memiliki padi dalam jumlah banyak karena bisa menjadi jaminan dalam meminjam uang,” beber Kadek Sumerta.

Kearifan lokal yang masih dipertahankan masyarakat Bali di Lampung Selatan tersebut terang Kadek Sumerta setidaknya masih tersisa di depan rumah rumah milik warga setempat. Meski beberapa di antaranya sudah tidak digunakan sebagian hanya dipergunakan sebagai gudang barang akibat warga mengubah lahan sawah menjadi tambak udang.

Nyoman, warga lain di Desa Tridarmayoga mengungkapkan, bangunan lumbung padi masih banyak ditemui terbuat dari bangunan kayu maupun semen menjadi aset warga dengan adanya tradisi pemberian sumbangan berupa beras dan gabah. Penyimpanan padi dalam lumbung sekaligus menjadi tabungan bagi keluarga saat memiliki kebutuhan mendesak dengan menjual padi yang disimpan dalam lumbung.

“Saat hajatan banyak warga dulunya menyumbang beras dan gabah hingga kini masih dipertahankan. Meski sebagian berubah ke sistem pemberian sumbangan berupa uang,” terang Nyoman.

Ratusan lumbung padi milik warga Tridarmayoga yang masih berfungsi dengan baik diakui oleh Nyoman merupakan milik petani yang masih memiliki lahan sawah, sementara sebagian lahan sawah di wilayah pesisir Timur Lampung tersebut telah berubah menjadi lahan perumahan sehingga lahan pertanian berkurang.

Nyoman yang memiliki lahan satu hektare sawah menyebut, masih mempertahankan lumbung sebagai lokasi penyimpanan padi yang pada bulan September ini memasuki puncak masa panen padi. Selain dijual sebagian besar gabah hasil panen dipergunakan untuk disimpan sebagai bahan kebutuhan sehari-hari untuk makan serta kebutuhan lain. Nilai-nilai kearifan lokal dalam pemanfaatan lumbung diakuinya sekaligus masih menjadi adat budaya leluhur sebagai tatanan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir timur Lampung tersebut.

Gabah kering hasil panen siap disimpan ke dalam lumbung terlebih dahulu dijahit dalam karung. [Foto: Henk Widi]

 

 

Lihat juga...