Usaha Kecil Genteng dan Batu Bata Terbantu Kemarau

LAMPUNG – Usaha rumahan pembuatan kerajinan genteng dan batu bata yang mayoritas menjadi pekerjaan utama warga Dusun Blora, Dusun Jogja di Desa Sukamulya dan di Dusun Banyumas dan Kuningan Desa Tanjungsari mulai menggeliat selama musim kemarau yang melanda wilayah Lampung.

Jayadi (30), salah satu pemilik usaha pembuatan genteng di Desa Sukamulya Kecamatan Palas mengaku selama musim kemarau dirinya mempercepat proses pembuatan genteng menggunakan sistem pres dan dikenal dengan genteng mantili.

Selama musim kemarau tersebut dirinya menyebut, produksi genteng terbuat dari tanah liat yang sudah digiling menggunakan mesin molen cukup terbantu dengan semakin cepatnya proses pengeringan termasuk pengeringan kayu sebagai bahan baku pembakaran. Usaha padat karya pembuatan genteng diakuinya melibatkan anggota keluarga isteri dan anaknya yang ikut membantu dalam proses pembuatan genteng yang ditekuni sejak beberapa tahun silam sebagai usaha keluarga.

“Sebagai usaha padat karya untuk mempercepat pembuatan genteng dimulai dari proses pencetakan, penjemuran hingga proses pembakaran di dalam tobong saya melibatkan anggota keluarga,” beber Jayadi warga Desa Sukamulya Kecamatan Palas saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pencetakan genteng di tobong miliknya, Selasa (26/9/2017).

Proses penjemuran batu bata lebih cepat selama musim kemarau. [Foto: Henk Widi]
Pembuatan genteng mantili sistem pres diakuinya saat ini sudah mulai memudahkan pekerjaan. Meski penggunaan tenaga kerja yang cukup banyak untuk proses pengeringan hingga proses pembakaran, bahkan saat genteng akan dibawa ke pembeli yang membutuhkan tenaga kerja bongkar muat. Bagi warga yang memiliki kemauan pekerjaan bongkar muat menjadi sumber penghasilan bagi yang tinggal di wilayah yang mayoritas menjadi pemilik usaha kecil pembuatan genteng.

Permintaan yang meningkat semenjak proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera membuat permintaan genteng selama dua tahun terakhir mencapai rata-rata 3000 buah bahkan lebih sekali pesan untuk pembuatan rumah baru. Harga genteng mantili dengan sistem pres saat ini mencapai Rp3 juta serta membutuhkan ongkos sebesar Rp300 ribu. Belum termasuk upah tenaga kerja dengan permintaan minimal 3000 buah karena sistem pengangkutan dengan kendaraan memerlukan tenaga kerja bongkar muat.

“Selain penghasilan bagi produsen genteng, aktivitas bongkar muat juga menjadi kegiatan para pemuda atau warga yang menjadi tenaga kerja bongkar muat,” terang Jayadi.

Berkat usaha pembuatan batu bata tersebut, seiring dengan permintaan yang meningkat dirinya mampu memenuhi permintaan hingga 30000 batu bata dengan penghasilan kotor mencapai Rp30 juta yang bisa dihasilkan dalam satu bulan. Bahkan bisa lebih cepat dalam proses pembuatan termasuk kondisi cuaca.

Selama musim kemarau, ia menyebut, penjemuran genteng hingga kering sebelum dimasukkan ke dalam tobong untuk dibakar lebih cepat sekitar dua hingga tiga hari. Sementara pada saat kondisi cuaca tidak panas bahkan mendung dan hujan proses pengeringan lebih lama, bisa mencapai sepekan.

Kondisi musim kemarau juga menguntungkan bagi perajin batu bata yang membuat pengeringan batu bata lebih cepat dari biasanya. Salah satunya Ica (35) di Dusun Banyumas Desa Tanjungsari yang sehari-hari membuat batu bata dengan sistem cetak manual. Ica yang sehari-hari menjaga anaknya sembari membuat batu bata menyebut, selama musim kemarau dirinya lebih cepat melakukan proses pengeringan dibandingkan saat musim hujan.

“Awalnya, saya hanya bekerja dengan sistem upahan. Selanjutnya setelah menikah saya membuat batu bata membantu pekerjaan suami membuat batu bata,” ujar Ica.

Ica mengaku, pembuatan batu bata dengan sistem upahan tersebut masih umum dilakukan di wilayah tersebut dengan upah Rp35 ribu untuk pembuatan sebanyak 1000 buah batu bata. Saat ini ia menyebut dengan permintaan yang cukup tinggi akibat pembangunan jalan tol tidak lantas membuat harga naik. Bahkan saat ini harga batu bata cenderung turun dari semula per seribu batu bata mencapai Rp300 ribu di lokasi, kini hanya mencapai Rp260 ribu per seribu batu bata.

“Selama musim kemarau produksi batu bata meningkat karena lebih cepat proses pengeringannya namun harganya justru turun,” beber Ica.

Ica yang dibantu sang anak bernama Yeni mengungkapkan, usaha kecil pembuatan batu bata telah membantu ekonomi keluarganya khususnya untuk biaya sekolah. Yeni bahkan membantu pekerjaan pembuatan batu bata tersebut untuk keperluan biaya sekolah serta membantu orang tuanya yang memiliki usaha pembuatan batu bata.

Ica salah satu pembuat batu bata di Desa Sukamulya Kecamatan Palas. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...