Produsen Gula Kelapa Alami Penurunan Produksi Imbas Kemarau
Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo
LAMPUNG — Musim kemarau yang masih melanda daerah Lampung Selatan beberapa waktu terakhir berimbas terhadap produksi gula kelapa atau gula merah. Meski pesanan tetap stabil, tapi akibat minimnya air nira membuat produksi tidak maksimal.
Jaenuri dan sejumlah produsen gula kelapa di Dusun Sukarame, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni menyebutkan, perbandingan pembuatan gula saat musim penghujan dan kemarau terletak pada hasil produksi. Saat musim penghujan, 10 pohon dapat menghasilkan 10 kilogram gula kelapa.
“Saat kemarau produksi gula kelapa untuk jumlah pohon yang sama hanya mencapai 5 kilogram. Sejumlah pohon bahkan sengaja tidak dideres menunggu produksi nira maksimal,” ungkap Jaenuri saat ditemui Cendana News, Selasa (26/11/2019).
Dari 80 batang kelapa yang dideres, Jaenuri bisa menghasilkan sebanyak 20 kilogram gula kelapa. Sebelumnya saat musim penghujan ia bisa menderes 100 pohon dengan hasil sekitar 30 kilogram gula kelapa.
Disebutkan juga, sisi positif dari musim kemarau yakni melimpahnya kayu untuk bahan bakar. Sebaliknya saat musim penghujan ia terpaksa membeli seharga Rp350.000 satu rit.
“Sisi positif saat kemarau saya memperoleh bahan bakar dengan mudah namun hasil produksi nira kelapa menurun,” ungkap Jaenuri.
Katini, istri Jaenuri menyebutkan, proses menderes kerap dilakukan saat pagi hari. Ia bertugas merebus air nira yang akan diolah menjadi gula kelapa. Setelah tiga hari air gula kelapa akan terkumpul menjadi adonan yang siap dicetak.
“Pangsa pasar gula merah skala rumah tangga dan usaha kuliner saya buat ukuran kecil dan permintaan pabrik ukuran besar,” ungkap Katini.
Sekali proses pembuatan ia dapat mencetak sebanyak 10 kilogram gula ukuran kecil dan 10 kilogram gula ukuran besar. Gula ukuran kecil dicetak memakai potongan bambu dan ukuran besar memakai baskom. Menghasilkan sebanyak 20 kilogram gula saat kemarau dengan harga jual Rp13.000 per kilogram ia mendapatkan Rp260.000 sekali produksi.
“Selama 10 kali produksi dalam satu bulan bisa mendapat hasil Rp2,6juta,” tambahnya.

Selain dijual di pasar Cilegon Provinsi Banten gula merah produksinya juga dikirim ke sejumlah usaha pembuatan kecap. Kualitas gula yang bagus ukuran besar sebagian dipesan pemilik usaha pembuatan kuliner empek empek sebagai campuran kuah cuka.
“Musim kemarau hasil produksi gula menurun nanti selanjutnya saat penghujan diharapkan akan meningkat,” terang Katini.
Arifin salah satu pembeli gula kelapa buatan Jaenuri dan Katini menyebut memakai gula untuk usaha kuliner. Sebagai pemilik usaha kuliner es dawet dan empek empek ia memilih membeli gula ukuran besar.
“Gula ukuran besar lebih praktis digunakan sebagai bahan baku juruh atau kuah gula,” ungkap Arifin.
Arifin menyebut membeli gula merah langsung dari produsen karena dijual dengan harga murah. Saat gula merah sudah dijual di pasar ia memastikan harga mencapai Rp15.000 per kilogram.