Biaya Operasional Meningkat, Harga Batu Bata Stabil Kala Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Pemilik usaha pembuatan batu bata di Kecamatan Palas, Lampung Selatan (Lamsel) mengalami peningkatan biaya operasional saat kemarau.

Supriadi, pembuat batu bata di Desa Tanjung Sari menyebut saat kemarau ia harus membeli tanah dan air. Bahan baku tanah diperoleh dari wilayah Kecamatan Sragi dengan cara membeli dan air dibeli dari sungai Way Pisang.

Pembelian tanah menurut Supriyadi dilakukan produsen batu bata dengan harga Rp350.000 untuk ukuran satu mobil L300. Selain tanah kebutuhan air untuk membuat batu bata diperoleh dengan menggunakan drum.

Sebanyak 15 drum berisi air yang diambil dari sungai Way Pisang dibeli dengan harga Rp150.000. Air menjadi kebutuhan sangat vital dalam proses penggilingan tanah dengan mesin molen hingga pencetakan.

Air sebanyak 15 drum disebutnya dipergunakan untuk pembuatan batu bata sebanyak 1000 buah. Pembelian tanah bahan baku batu bata dan air membuat biaya operasional meningkat saat kemarau.

Sebagai cara penghematan ia memakai mesin sedot air bertenaga gas elpiji ukuran 3 kilogram. Mengeluarkan uang sebesar Rp30.000 untuk membeli gas elpiji, ia bisa menyedot air selama dua jam.

“Pasokan air untuk pembuatan batu bata tidak memakai air sumur karena selama kemarau hanya bisa digunakan untuk kebutuhan mandi, mencuci dan memasak,” ungkap Supriyadi saat ditemui Cendana News, Selasa (8/10/2019).

Biaya rata rata yang dikeluarkan untuk pembuatan batu bata selama musim kemarau disebutnya mencapai Rp1 juta. Biaya tersebut dikeluarkan untuk penyiapan bahan baku tanah, air, pembelian kayu bakar.

Selama musim kemarau proses pengeringan batu bata bisa berlangsung cepat dibanding musim penghujan. Meski demikian biaya operasional yang dikeluarkan lebih besar untuk penyediaan air.

Sekali proses membuat batu bata ia bisa mencetak sebanyak 20.000 batu bata. Sesuai dengan harga umum di wilayah Palas batu bata dijual dengan harga Rp330.000 per seribu batu bata di lokasi.

Harga tersebut menurutnya masih stabil dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp350.000 per seribu batu bata. Sekali pengolahan hingga batu bata selesai dibakar ia memastikan bisa mendapatkan hasil kotor Rp6 juta.

Hasil penjualan digunakan untuk menutupi biaya operasional pembelian bahan baku tanah dan penghalusan tanah, air, kayu bakar, upah tenaga kerja. Meski nominal hasil penjualan cukup besar Supriadi memastikan dalam satu kali proses pembuatan batu bata ia hanya mengantongi keuntungan Rp1juta. Terlebih saat musim kemarau kebutuhan air paling banyak dibutuhkan pada proses pembuatan batu bata.

“Produksi harus tetap kami lakukan karena modal yang dipakai berasal dari pinjaman,” tutut Supriyadi.

Meningkatnya biaya operasional pembuatan batu bata saat kemarau diakui Sumini produsen batu bata di desa yang sama.

Sumini, pembuat batu bata di Desa Tanjung Sari Kecamatan Palas, Lampung Selatan melakukan proses penjemuran batu bata yang cepat kering saat kemarau, Selasa (8/10/2019) – Foto: Henk Widi

Bahan baku tanah, air, sewa alat molen hingga bahan bakar kayu harus dibeli. Sejumlah produsen batu bata yang tetap bertahan menurutnya akibat modal yang dipergunakan hasil pinjaman.

Modal pinjaman tersebut akan dikembalikan saat batu bata sudah terjual.

“Harga batu bata kerap sudah ditentukan oleh bos sehingga meski biaya operasional tinggi saat kemarau harga tetap stabil di tingkat produsen,” papar Sumini.

Kenaikan harga batu bata disebut Sumini hanya terjadi pada awal 2015 hingga 2016. Sebab kala itu harga jual per seribu batu bata bisa mencapai Rp400.000 seiring banyaknya warga yang membangun rumah baru usai terkena pembebasan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Harga kembali turun seiring permintaan batu bata yang berkurang. Meski permintaan berkurang, produsen batu bata tetap melakukan produksi memenuhi kebutuhan masyarakat yang akan membangun rumah.

Produsen batu bata di Desa Sukamulya Kecamatan Palas bernama Hasan menyebut, pembengkakan biaya operasional lazim saat kemarau.

Hasan, salah satu pembuat batu bata membakar batu bata pada tobong miliknya di Desa Sukamulya Kecamatan Palas Lampung Selatan, Selasa (8/10/2019) – Foto: Henk Widi

Bahan baku tanah disebutnya sejak 10 tahun silam sudah tidak bisa diperoleh dari wilayah kecamatan Palas.

Sebab pembuatan batu bata selama puluhan tahun mengakibatkan lahan di wilayah tersebut tidak menyisakan tanah humus dan lempung atau tanah liat.

Selain bahan baku tanah, kebutuhan air saat kemarau kerap harus diperoleh dengan cara membeli. Kebutuhan air dalam pembuatan batu bata menjadi bagian dari modal yang harus dikeluarkan.

Meski pengeluran biaya membengkak, harga jual batu bata masih stabil di angka Rp330.000 per seribu batu bata. Permintaan batu bata yang masih dipenuhi menurutnya berasal dari sejumlah masyarakat yang melakukan perehaban rumah.

“Saat kemarau banyak warga membangun rumah karena lebih cepat kering tanpa ada gangguan cuaca hujan membuat kebutuhan batu bata stabil,” tuturnya.

Pembuatan batu bata disebutnya masih menjadi sumber usaha bagi masyarakat di Kecamatan Palas. Sebab saat musim kemarau lahan pertanian yang kering tidak bisa ditanami komoditas pertanian. Imbasnya sejumlah petani yang memiliki modal mempergunakan musim kemarau untuk beralih profesi menjadi produsen batu bata.

Lihat juga...