WPA di Sikka Sosialisasi pada ODHA

MAUMERE –  Sebanyak 25 komunitas Warga Peduli AIDS (WPA) yang ada di kabupaten Sikka, melakukan pertemuan bersama Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA), guna melakukan sosialisasi tentang WPA, serta membahas berbagai program kerja WPA, tupoksi WPA, serta kepengurusan yang ada di wilayahnya, agar bisa diketahui ODHA, sehingga  bisa saling mengenal dan membantu.

Yuyun Darti Baetal (kanan), Staff Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary

Staff Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Sikka, Yuyun Darti Baetal, mengatakan, selama ini ODHA belum mengenal anggota dan pengurus WPA yang ada di 13 kelurahan dan 23 desa yang tersebar di Kota Maumere, maupun di berbagai kecamatan yang ada di kabupaten Sikka yang sudah terbentuk.

“Kegiatan ini dilakukan untuk membangun keterlibatan ODHA dalam setiap kegiatan yang dilakukan WPA, terlebih ODHA baru yang sangat terbantu dengan adanya WPA,” sebutnya, Jumat (8/9/2017).

Bagi ODHA yang baru jelas, Yuyun, mereka merasa terbantu dengan adanya WPA yang mendampinginya dalam mengurus data-data kependudukan seperti pembuatan KTP serta Srat Keterangan Tanda Miskin yang akan dipergunakan saat berobat, sehingga tidak dipungut biaya.

“Banyak ODHA yang terbantu dengan hadirnya WPA. Mereka lebih mudah mendapat akses pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya, seperti Puskesmas dan Puskesmas Pembantu atau Pustu,” jelasnya.

Selama ini, lanjut Yuyun, banyak ODHA yang takut diketahui jika terlibat di WPA. Padahal, dengan aktif di WPA, para ODHA bisa mengakses anggaran yang ada di WPA untuk konsep pemberdayaan ODHA dan menanggulangi HIV dan AIDS.

Menurut Yuyun, di Sikka saat ini sudah terbentuk 36 WPA yang tersebar di 13 kelurahan dan 23 desa, sementara dalam kegiatan yang dilakukan bersama ODHA hanya terlibat 25 WPA, sebab disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Gilbertus Yohanes, ketua Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) Flores Support Plus bersedia mendorong teman-teman ODHA untuk terlibat dalam kegiatan WPA. Sebab, sudah saatnya berani tampil dan membuka diri kepada masyarakat, terutama kepada pasangan dan keluarga.

Dengan adanya kegiatan ini, harap Gilbertus, bisa membangun jejaring antara WPA dan ODHA di wilayah masing-masing, agar bisa menghapus stigma yang selama ini selalu disematkan masyarakat kepada para ODHA.

“Banyak masyarakat yang mengucilkan ODHA, karena ketidaktahuan mereka. Namun, saya merasa bersyukur, dengan hadirnya WPA bisa menghapus stigma yang selama ini ada dan memberikan penyadaran kepada masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...