Sahabat Suriah Mendesak Assad Mundur

NEW YORK – Sejumlah Negara yang tergabung dalam “Sahabat Suriah” mengancam tak akan membantu Negara tersebut jika tidak ada peralihan politik. Negara-negara pembenci Presiden Suriah Bashar al Assad tersebut mendesak agar sang presiden turun dari jabatannya.

“Sahabat Suriah” merupakan gabungan sejumlah Negara yaitu 14 negara Barat dan Arab yang pada Senin (18/9/2017) lalu bertemu di New York di sela-sela Sidang Umum PBB. “Tidak akan membantu pembangunan kembali pasca-perang jika tidak ada peralihan politik, yang memaksa sang penguasa turun jabatan,” kata Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dalam kesempatan pertemuan tersebut.

Perang di Suriah, yang memasuki tahun ketujuh namun demikian kini pertikaian yang terjadi tersebut tidak lagi menjadi perhatian dunia. Mata dunia saat ini lebih tertuju pada ancaman nuklir Korea Utara.

“Kami yakin bahwa satu-satunya cara ke depan adalah dengan meneruskan upaya politik. Kami juga ingin memperjelas kepada Iran, Rusia, dan pemerintah Assad bahwa kami tidak akan mendukung pembangunan kembali Suriah tanpa peralihan, yang tidak melibatkan Assad, sesuai dengan Resolusi 2254,” tambah Johnson.

Johnson merujuk pada resolusi Dewan Keamanan, yang disetujui melalui perundingan di Jenewa. Dia juga merujuk pada keterlibatan Rusia dan Iran dalam perang di Suriah yang sangat menguntungkan Assad. Sementara pada saat bersamaan Amerika Serikat, yang mendukung gerilyawan, justru mulai mengurangi perang mereka dengan menghentikan program suplai senjata.

“Rekonstruksi di Suriah sangat bergantung pada adanya proses politik yang kredibel, yang sesuai dengan kesepakatan di Jenewa dengan peran dari PBB,” kata Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, David Satterfield.

Pertemuan pada Senin itu sangat kontras dengan pertemuan tahun lalu yang terjadi tidak lama setelah gencatan senjata di kota terbesar Suriah, Aleppo, berakhir dengan kegagalan usai sebuah konvoi bantuan internasional terkena serangan bom udara. Aleppo saat ini berada di bawah kekuasaan pasukan pemerintah, sementara posisi Assad semakin kuat berkat bantuan dari Rusia dan Iran.

“Kami di sini merundingkan bagaimana membangkitkan kembali perundingan damai yang diprakarsai PBB,” kata Menteri Luar Negeri Swedia Margot Wallstrom, yang juga ikut hadir dalam pertemuan.

Ketika ditanya mengenai perundingan damai di Astana yang diprakarsai oleh Rusia, Iran, dan Turki, Wallstrom mengatakan: “Adalah kabar baik jika perundingan di Astana itu berkontribusi terhadap de-sekalasi kekerasan. Namun proses itu juga harus membicarakan transisi politik,” tandasnya.

Sebelumnya, Prancis mengatakan bahwa kondisi saat ini di Suriah beresiko membuat negara tersebut terpecah sehingga membuka pintu bagi terbentuknya kelompok-kelompok radikal yang baru. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan bahwa dia akan menggelar rapat terbatas dengan anggota tetap Dewan Keamanan pada Kamis untuk mengakhiri konflik. (Ant)

Lihat juga...