PBB – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres meminta negara anggota menghindari perang dengan Korea Utara dan mengecam pemimpin dunia, yang menyebarkan ujaran kebencian kepada pengungsi untuk mendapatkan kuntungan politik.
Dua pasal pernyataan tersebut adalah kecaman tersirat Guterres kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang bersikap keras terhadap Pyongyang dan mengeluarkan beberapa kebijakan benci-pendatang.
Dalam pidato pertama pertemuan tahunan pemimpin 193 negara anggota di Sidang Umum PBB, sejak menjadi sekretaris jenderal pada Januari, Guterres mengatakan bahwa kemelut terkait Korea Utara harus diselesaikan dengan upaya politik, yang damai.
“Ini waktu tepat bagi pemimpin untuk menunjukkan sikap kenegarawanan. Kita harus menghindari jalan menuju perang,” kata mantan perdana menteri Portugal itu, Selasa (19/9/2017).
Di tengah ketegangan terkait ambisi nuklir dan rudal kendali Korea Utara, yang ingin punya kemampuan membombardir Amerika Serikat dengan rudal kendali berhulu ledak nuklir, Trump sering mengeluarkan pernyataan ancaman aksi militer.
Guterres juga meminta ke-15 negara anggota Dewan Keamanan PBB untuk mempertahankan kesatuan sikap terkait Korea Utara. Lembaga tersebut baru saja menjatuhkan sanksi ke-sembilan terhadap Korea Utara sejak 2006.
Mantan kepala badan pengungsi PBB itu mengaku turut merasakan penderitaan saat menyaksikan bagaimana pengungsi dan pendatang dihina dan menjadi kambing hitam, serta melihat bagaimana tokoh politik justru memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendapatkan keuntungan suara.
Sementara itu dari China, Kementerian Luar Negeri negara tersebut menyebut ancaman atau pidato tidak dapat membantu menyelesaikan masalah di semenanjung Korea, kata pernyataan kementerian luar negeri China pada Selasa (19/9/2017) setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis mengisyaratkan serangan militer pada Korea Utara.
Korut berulang kali menentang Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk melakukan uji nuklir dan peluru kendali jarak menengah, yang diluncurkan melewati Jepang, yang menjadi uji nuklir keenam dan terkuat di negara tersebut, pada 3 September.
“Perkembangan dalam masalah nuklir semenanjung itu hingga kini membuktikan bahwa, tidak peduli apakah ancaman militer dalam kata atau tindakan, mereka tidak dapat mempromosikan dan meningkatkan resolusi,” kata juru bicara kementerian luar negeri China Lu Kang.
“Sebaliknya, itu menambah ketegangan dan membuat pencapaian denuklirisasi di semenanjung tersebut lebih rumit dan sulit terselesaikan,” tambahnya menanggapi pertanyaan tentang komentar Mattis pada pembahasan reguler.
Setiap konflik di semenanjung Korea dapat menyebabkan pertumpahan darah yang tak terlihat sejak Perang Korea 1950-1953, yang merenggut nyawa 50 ribu warga Amerika dan jutaan warga Korea dan diakhiri dengan sebuah gencatan senjata senjata, bukan perjanjian damai.
Korea Selatan dan Amerika Serikat, dan secara terpisah Rusia bersama China, memulai pelatihan militer pada Senin dalam unjuk kekuatan terhadap Korut. (Ant)