Posdaya Masjid Babussalam Bangkitkan Semangat Wirausaha Warga Boro Gondang

MALANG —- Berdiri sejak 2013, Posdaya Berbasis Masjid, Masjid Babussalam yang berlokasi di Dusun Boro Gondang, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang memberikan kontribusi yang positif terhadap pemberdayaan warga terutama masyarakat yang tinggal di sekitar masjid.

Menurut Pengurus Posdaya Babussalam Bidang Wirausaha, Endro Suwardi program Posdaya sendiri diperkenalkan pertama kali oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang. Pada saat itu mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim melakukan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di daerah tersebut.

Namun pada awal berdirinya Posdaya Babussalam, masih banyak warga yang belum mengetahui apa fungsi keberadaan dari Posdaya Berbasis Masjid untuk masyarakat.

“Tapi Alhamdulillah semakin ke sini, warga semakin paham apa sebenarnya Posdaya Berbasis Masjid tersebut. Bahkan perkembangannya semakin tahun semakin membaik,” ujarnya kepada Cendana News.

Dijelaskan, Posdaya Berbasis Masjid sendiri adalah pemberdayaan masyarakat melalui masjid, di mana masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga digunakan sebagai pusat kegiatan untuk pemberdayaan umat mulai dari agama, pendidikan dan ekonomi.

Pengurus Posdaya Babussalam, Endro Suwardi/Foto: Agus Nurchaliq.

Dengan menjalin kerjasama apik bersama mahasiswa UIN, Posdaya Babussalam hingga kini terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan menyejahterakan warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani melalui berbagai pelatihan kewirausahaan.

Terbukti sebelum adanya Posdaya, masyarakat yang dulunya belum bisa menghasilkan sebuah produk, saat ini sudah bisa membuat aneka produk kreatif di antaranya bros, bunga berbahan plastik kresek dan camilan makanan berupa stik dari buah pepaya muda yang sudah dijual di beberapa tempat.

“Untuk usaha produk bunga berbahan plastik kresek, warga biasanya hanya produksi pada saat bulan puasa karena bulan tersebut banyak pesanan bunga plastik,” ungkapnya.

Lebih lanjut Endro mengaku meskipun saat ini sudah banyak ibu-ibu yang memiliki keterampilan membuat aneka produk. Sayangnya, karena minim pengetahuan tentang pemasaran produk dan masih tingginya tingkat ketergantungan kepada orang lain menjadi kendala tersendiri bagi mereka untuk terus bisa bertahan dengan produknya. Belum lagi sedikitnya waktu yang di miliki Ibu-ibu untuk bisa membuat sebuah produk.

“Waktu dari kebanyakan para ibu menghabiskan banyak waktu di kebun untuk bertanam sayur,” jelasnya.

Endro juga menyampaikan, selama ini penjualan produk terutama stik pepaya masih tergantung kepada pemasaran dari mahasiswa UIN. Jadi mereka belum bisa mandiri untuk menjual produknya.

Sementara itu di bidang pendidikan, jika dulu sebelum adanya Posdaya Babussalam, mayoritas warga hanya berpendidikan Sekolah Dasar.

“Tapi beberapa tahun belakangan ini sudah banyak anak-anak yang sekolah SMP, SMA bahkan ada yang sudah mengenyam pendidikan perguruan tinggi,” terangnya.

Selain itu di Masjid Babussalam juga sudah ada Taman Pendidikan Alquran. Semua anak-anak kita ajak mengaji agar mereka tidak keluyuran kemana-mana. Sedangkan setiap malam minggu, kita ajak Bapak dan Ibu-ibu untuk mengikuti pengajian. Kemudian, meskipun tidak terlalu banyak, tapi Alhamdulillah warga sudah mau menjalankan salat wajib secara berjamaah di Masjid.

“Ke depan, perlahan melalui Posdaya ini kita akan terus coba memberdayakan lebih banyak warga sehingga masyarakat bisa lebih sejahtera dan mandiri seperti tujuan awal didirikannya Posdaya Masjid Babussalam. Kami juga akan meminta agar teman-teman mahasiswa UIN untuk terus memantau perkembangan masyarakat yang ada di sini,” pungkas pria yang juga menjadi takmir Masjid Babussalam.

Produk bunga plastik kresek /Foto: Dokumentasi Posdaya Masjid Babussalam/Agus Nurchaliq.
Produk stik pepaya/Foto: Dokumentasi Posdaya Masjid Babussalam/Agus Nurchaliq.
Lihat juga...