Buras, Lemang Serta Bolu Peca Sajian Lebaran Idul Adha Khas Suku Bugis di Lampung

LAMPUNG — Setelah melaksanakan salat Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriyah, warga asal Sulawesi Selatan yang bersuku Bugis di Desa Berundung Kecamatan Ketapang Lampung Selatan melakukan kegiatan silaturahmi dengan anggota keluarga, kerabat dan handai taulan.

Mereka merayakan hari raya kurban atau dikenal dengan lebaran haji tersebut. Berbagai menu untuk dihidangkan bagi anggota keluarga serta tetangga yang masih melakukan tradisi saling kunjung pun mulai disediakan sembari menunggu proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan oleh panitia penyembelihan hewan kurban.

Menurut Muhamad Syukur, warga Desa Berundung hidangan Hari Raya Kurban seperti layaknya Hari Raya Idul Fitri terdapat hidangan yang hanya bisa ditemui pada sejumlah keluarga Suku Bugis asal Sulawesi Selatan. Mereka menetap di wilayah Penobakan, Muara Piluk, Berundung dan desa-desa pesisir di Lampung Selatan.

Elo, Sang isteri menyiapkan menuburas yang terbuat dari beras dan lemang yang terbuat dari ketan.

“Hari Raya Idul Adha bagi suku Bugis menjadi sangat istimewa karena kami yang memiliki garis keturunan bangsawan masih memegang kental tradisi kesultanan bahkan hingga merantau ke manapun, jadi saat Hari Raya Idul Adha pun cukup meriah,” terang Muhamad Syukur.

Warga Desa Berundung Kecamatan Ketapang ini melakukan open house menerima kunjungan dari warga lain yang terdiri dari suku Lampung,Jawa serta suku suku lain pada hari raya Idul Adha 1438 H, Jumat (1/9/2017).

Setelah Salat Idul Adha, penyembelihan hewan kurban dan proses memasak daging kurban selesai dilakukan menu buras dan lemang siap disantap sebagai pengganti nasi yang disajikan pada hari biasa. Buras dan lemang punya ciri khas dibungkus daun pisang.

Elo, isteri Muhamad Syukur menyebut dalam proses pembuatan kuliner jelang hari raya Idul Adha beberapa menu yang sudah dibuat karena proses pembuatan membutuhkan waktu selama tiga hari di antaranya pembuatan tape ketan hitam, buras dan lemang serta pembuatan kue bolu peca.

Menu menu tersebut diakui Elo dominan ditemui di perumahan warga suku Bugis sehingga saat Hari Raya Idul Adha kunjungan ke rumahnya akan semakin meningkat sejak siang hingga malam hari.

“Sejak pagi warga masih Salat Idul Adha dilanjutkan menyembelih hewan kurban, warga menyempatkan berkunjung siang hingga malam meski sejak pagi kami sudah siap dengan berbagai menu khas Bugis,” terang Elo.

Meski belum mendapatkan daging kurban, Elo menyebut dirinya telah mempersiapkan hidangan buras,lemang dipadukan dengan menu lain berupa pindang ikan simba, ikan tongkol, semur ayam serta beberapa menu lain sementara menu daging kambing serta sapi dari kurban diakuinya belum diperolehnya.

Kue bolu peca yang masih akan dicampur dengan gula merah dan siap disajikan bagi tamu yang berkunjung pun siap dihidangkan sebagai kue khas Bugis yang wajib pada Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha.

Beberapa jenis makanan yang dibuat tersebut diakui Elo dibantu sang ibu dan anggota keluarga lain serta tetangga berupa lemang dan buras yang sebagian akan dibagi bagikan kepada tetangga dan keluarga lain.

Lemang diakui Elo merupakan makanan terbuat dari beras ketan dicampur santan dan garam yang akan dimasak dengan cara diaron dan dikukus lalu dimasukkan dalam bungkus daun pisang meski diakuinya proses pembuatan kerap mempergunakan bambu.

Bagi sebagian warga Bugis pembuatan lemang hanya menggunakan cetakan dari pipa berbentuk bulatan selanjutnya dibungkus dan direbus. Pembuatan buras pun nyaris sama meski dibuat dengan beras biasa dan direbus dalam wadah daun pisang kepok.

Aktivitas saling berkunjung pada hari raya Idul Adha tersebut diakuinya masih menjadi tradisi yang dipertahankan warga Bugis di pesisir Lampung Selatan dengan menu menu khas yang jarang ditemui di tempat lain.

Elo menyebut meski nyaris sama sebagian warga lain khususnya yang bersuku Jawa menggunakan beras yang dibuat menjadi ketupat atau lontong untuk disantap bersama opor ayam atau daging saat Hari Raya Idul Adha.

Sajian buras, lemang dan kue kue khas Bugis tersebut bahkan menurut Elo akan kerap ditemui di desa desa pesisir yang banyak dihuni suku Bugis pasca Idul Adha yang dipercaya sebagai bulan besar dan bulan baik untuk melangsungkan pernikahan.

Bolu Peca diiris kecil kecil untuk dicampurkan menggunakan gula aren, sajian khas suku Bugis saat Hari Raya Idul Adha /Foto: Henk Widi.
Lemang,buras dalam piring siap disantap bersama semur ayam,daging,ikan simba hidangan khas saat Hari Raya Idul Adha/ Foto: Henk Widi.

 

 

 

Lihat juga...