Pekerja Sosial Dihalangi Saat Kirimkan Bantuan ke Rohingya
SITTWE – Pekerja sosial asing dirintangi oleh kaum umat Budha etnis Rakhine saat akan membawa bantuan sosial ke Rohingya. Sehingga perjalanan bantuan untuk mencapai ratusan kaum Muslim Rohingya yang terlantar akibat kekerasan di bagian barat Myanmar tidak mudah dilakukan.
Tim Palang Merah yang sudah menghadapi cuaca buruk di medan yang sulit, birokrasi yang berbelit-belit juga masih harus mengatasi massa yang marah. Warga menuduh PBB dan kelompok-kelompok bantuan asing hanya membantu kaum Muslim.
Para pemberi bantuan tersebut dianggap telah menafikan kondisi penderitaan kaum Budha di bagian paling termiskin di Myanmar tersebut. Sejauh ini, pemerintah Myanmar hanya memberikan akses kepada organisasi Palang Merah ke kawasan tersebut.
Namun karena situasi yang terjadi, PBB memilih menangguhkan kegiatannya dan mengevakuasi stafnya setelah pemerintah setempat menyatakan mendukung aksi menumpas pemberontakan Rohingya..
Pada Rabu (20/9/2017) sekelompok massa di Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine, berusaha memblok sebuah kapal yang membawa bantuan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) ke wilayah utara yang disebut-sebut sebagai tempat serangan kaum militan Rohingya.
Massa itu dipersenjatai dengan pentungan, pisau dan bom-bom bensin dan hanya bubar setelah polisi melepaskan peluru-peluru karet. Empat hari sebelumnya sebuah truk Palang Merah Myanmar dihentikan dan digeledah oleh warga Rakhine di Sittwe.
“Dengan ketegangan yang meningkat di negara bagian Rakhine, staf kemanusiaan dan kontraktor pribadi menghadapi tantangan-tantangan serius dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas penyelamatan hidup,” kata juru bicara kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan di Myanmar Pierre Peron.
Dalam sebulan terakhir, 420.000 orang Rohingya telah menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh untuk menghindari apa yang ketua HAM PBB sebutkan sebagai pembersihan etnis. Kelompok-kelompok bantuan asing sekarang membantu Bangladesh mengatasi bencana kemanusiaan. (Ant)