Kelas Pesisir Makassar Kini Sudah Punya 90 Anak Didik
MAKASSAR — Sekitar 90 orang anak memenuhi Pesisir Marbo. Mereka tampak serius memperhatikan pengajar yang berada di hadapan mereka. Sekalipun mereka belajar di alam terbuka, alias tidak ada bangunan.
Anak-anak itu merupakan merupakan pelajar dari kelas anak pesisir yang dibentuk oleh “Ruang Abstrak Literasi” sekitar lima bulan lalu. Pada waktu dibuka hanya terdapat sekitar 30 murid. Jumlah ini naik tiga kali lipat atau 300 persen. Itu artinya makin banyak anak-anak yang kebanyakan dari nelayan miskin membutuhkan akses pendidikan.
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan kelas anak pesisir ini dilakukan rutin setiap Sabtu Sore. Belajar di alam terbuka kelas anak pesisir ini sangat disukai oleh anak-anak pesisir Pantai Marbo.
Menurut Muhamad Ferdhiyadi N, salah satu pustakawan dari Ruang Abstrak Literasi dirinya sengaja membuat kelas anak pesisir ini karena menurutnya anak-anak pesisir masih termarjinalkan dalam hal pendidikan.
“Akhir saya dan teman-teman membuka kelas anak pesisir ini setelah banyak kasus anak yang kurang mendapat pendidikan, saya lihat dan terjadi di lingkungan anak Pesisir Marbo ini,” jelas Ferdi pada Cendana News Kamis (7/08/2017).
Ferdi dengan 10 pengajar sukarelawan sengaja mengambil konsep di alam. Para pengajar juga yang tergabung sebagai volunter dikelas anak-anak pesisir ini datang dari berbagai kalangan, ada dari mahasiswa, guru honorer di salah satu sekolah di Makassar, dan juga ada yang berprofesi sebagai wartawan.
Materi yang diajarkan di kelas pesisir juga sama dengan materi yang diajarkan oleh sekolah formal pada umunya. Akan tetapi para relawan yang mengajar dituntut kreatif dalam menyampaian materi. Misalnya saja para pengajar menyelipkan dongeng dalam menyampaikan materi.
Di antara para relawan itu terdapat, Ona Mariona. Mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan magister Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) mengakui, dia dituntut menjadi guru yang seriur, tetapi juga harus pandai melucu.
“Setiap kali mengajar di kelas anak pesisir saya harus pandai melempar candaan yang berbobot dan teka-teki yang lucu yang ada hubungan dengan materi yang saya bawakan,” ceritanya.
Di kelas anak pesisir Ona mendapat tugas mengajar 20 murid yang usianya rata-rata duduk di kelas 4 SD. Ona mempunyai pengalaman yang membuat miris menjadi pengajar di kelas anak pesisir. Dia menemukan dari 20 murid masih ada beberapa yang belum padai membaca padahal mereka sudah duduk di kelas 4 SD. Itu bukti pendidikan formal pada anak pesisir sebelumnya belum menunjukkan hasil memadai.
“Padahal kami sudah membaginya dalam 3 kelas TK, SD dan SMP. Untuk bisa menyamakan materi yang diajarkan. Biasanya anak-anak seperti ini akan sulit mengikuti materi,” ujar Ona.
Lain lagi pengalaman, Sofyan Basri seorang wartawan di salah satu media cetak di Makassar yang sangat tertarik mencoba pengalaman baru menjadi pengajar.
Menurut Sofyan dirinya harus ekstra sabar dalam menghadapi anak-anak kecil di pesisir marbo.
” Anak pesisir ini rasa percaya dirinya sangat kurang bahkan untuk memperkenalkan diri mereka malu sehingga saya ingin saya sangat tertarik mengajarkan pendidikan karakter pada anak-anak ini,” jelas Sofyan.
