Kekeringan di NTB Belum Berdampak Parah terhadap Tanaman Pertanian
LOMBOK – Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Husnul Fauzi mengatakan, kekeringan yang melanda sebagian wilayah NTB dinilai belum berdampak parah terhadap tanaman pertanian yang ada di seluruh kabupaten/kota di NTB.
“Belum berdampak parah dan masih dalam batas kewajaran. Hal tersebut juga bisa dilihat dari masih terdapatnya sebagian bendungan atau sumber mata air yang masih memiliki debit air sebagai irigasi tanaman pertanian milik petani,” kata Fauzi di Mataram, Jumat (15/9/2017).
Meski memang diakuinya, kekeringan yang terjadi sudah pasti akan tetap berdampak terhadap lahan pertanian yang ada, namun tidak sampai parah dan masih bisa diatasi.
Ia menyebutkan, ada sebagian wilayah yang areal lahan pertaniannya kalau dilihat dari segi pertumbuhan tidak seperti waktu ada air. Terjadi pertumbuhan yang lambat.
“Mengantisipasi hal tersebut, ketika ada potensi air, semua pompa air supaya dimaksimalkan penggunaannya. Termasuk memaksimalkan bendungan yang masih terdapat airnya secara bergiliran. Juga antisipasi benih dengan menanam benih yang tahan terhadap kekeringan,” katanya.
Ditambahkan, sampai sejauh ini, pihaknya belum menerima laporan adanya gagal panen maupun adanya tanaman yang terserang penyakit puso, akibat kekurangan air dari Dinas Pertanian kabupaten/kota di seluruh NTB.
Sebelumnya Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Muhammad Rum mengatakan, kekeringan diperkirakan akan berlangsung sampai bulan Oktober 2017. Setelah itu hujan akan kembali turun normal seperti biasa.
Berdasarkan data rekapitulasi BPBD NTB, wilayah terdampak kekeringan, memasuki musim kemarau 2017, ada 318 desa yang tersebar di 71 kecamatan, kabupaten dan kota terdampak kekeringan. Sementara untuk jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak sebanyak 127.940 KK, dengan total jumlah jiwa mencapai 640.048.