Dampak Kemarau, Produksi Gula Merah Lampung Turun 50 Persen

LAMPUNG — Produsen gula merah dengan bahan baku air legen kelapa Agustus hingga September tahun ini mulai mengalami penurunan produksi akibat kekeringan yang melanda wilayah Lampung termasuk di Dusun Bandarrejo Desa Sukaraja Kecamatan Palas.

Sebagai sentra usaha kecil rumahan pembuatan gula merah salah satu produsen gula merah bernama Muhammad Zaelani (25) bersama isterinya,  Asih (25) mengaku mengalami penurunan produksi hingga 50 persen dibandingkan saat musim penghujan.

Zaelani yang ditemui Cendana News seusai memanjat pohon kelapa untuk menderes legen kelapa mengaku saat musim hujan atau curah hujan cukup produksi legen cukup banyak sehingga dirinya bisa memanjat sekitar 60 pohon kelapa.

Namun saat kemarau dirinya hanya memanjat sebanyak 30 pohon kelapa akibat sebagian pohon tidak menghasilkan air legen. Air legen yang berasal dari bakal bunga kelapa (manggar) bahkan sudah tidak muncul selama musim kemarau mulai melanda wilayah Palas berimbas hasil produksi gula menurun.

“Bahan baku pembuatan gula hanya berasal dari manggar yang ditebas selanjutnya ditampung dalam jerigen yang sudah dimodifikasi diambil keesokan harinya saat jerigen sudah berisi air legen untuk dibawa ke tempat pengolahan gula,” terang Zaelani pengrajin gula merah kelapa di Dusun Bandarrejo Desa Sukaraja Kecamatan Palas, Selasa (26/9/2017)

Zaelani membandingkan produksi gula merah dari pohon kelapa miliknya dengan puncak masa air legen kelapa meningkat sekitar Desember 2016 hingga Maret 2017 dengan sebanyak 60 pohon mampu menghasilkan air legen yang melimpah.

Sebanyak 60 pohon dengan rata rata sebanyak satu liter setiap pohon diakuinya mampu menghasilkan sebanyak 60 liter dan menjadi gula merah sebanyak 30 kilogram setelah melalui proses pengolahan.

Saat musim puncak kemarau pada September dan Oktober bahkan sudah dimulai sejak Agustus berimbas penurunan hasil legen hingga sekitar 50 persen akibat sebagian besar pohon kelapa tidak menghasilkan manggar.

Dirinya hanya bisa menderes sebanyak 30 pohon kelapa dari sebanyak 60 pohon kelapa di kebun yang disewanya. Sebanyak 30 liter air legen kelapa diakuinya hanya mampu menghasilkan sebanyak 15 kilogram gula merah yang saat ini harganya mencapai Rp8 ribu per kilogram yang dijual kepada pengepul.

Harga tersebut diakui Muh Zaelani cukup minim dengan biaya operasional yang harus dikeluarkannya sebagai pembuat gula merah diantaranya untuk pembelian kayu bakar serta serabut kelapa yang dipergunakan untuk mengolah gula kelapa. Gula merah yang dibuat oleh sang isteri tersebut diakuinya di pasaran dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional bahkan hingga ke Provinsi Banten.

“Sebagai pemilik usaha kecil saya harus tetap bertahan karena jika tidak memproduksi gula maka saya tidak bisa menghasilkan uang apalagi saat ini ditambah dengan kondisi musim kemarau banyak pohon kelapa yang tidak produktif jadi harus sabar menunggu saat tiba musim penghujan,” terang Zaelani.

Pada masa puncak masa panen legen dengan hasil gula merah sebanyak 30 kilogram saja dan harga Rp8 ribu per kilogram dirinya bisa mengantongi uang sekitar Rp240 ribu per hari. Sementara pada masa paceklik saat kemarau dirinya hanya bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp120 ribu per hari.

Saat berproduksi selama 30 hari tanpa berhenti dengan rata rata pohon produktif sebanyak 30 batang pohon ia mengaku berhasil mengumpulkan omzet sekitar Rp3,6 juta yang sebagian disimpan sebagai persiapan uang sewa pohon pada lahan kelapa yang saat ini mencapai Rp2 juta untuk sebanyak 60 pohon sebagian uang dipergunakan untuk biaya operasional membeli kapur dan obat gula serta ditabung.

Meski kemarau menurunkan produktifitas hasil legen kelapa sebagai bahan baku pembuatan gula merah ia mengaku masih bersyukur masih bisa membuat gula merah karena sebagian pembuat gula memilih berhenti berproduksi. Puluhan pembuat gula merah bahkan masih tetap bertahan sebagai usaha kecil karena modal pinjaman dari bos pengepul gula yang membuat usaha kecilnya tetap berjalan.

Misiati, pembuat gula merah lain di desa yang sama bersama Suwarto dan sang suami juga mengaku hanya memperoleh legen sebanyak 50 liter dari pohon kelapa yang menghasilkan sekitar 25 kilogram gula merah untuk dijual ke pasar.

Usaha kecil yang mengandalkan pohon kelapa sebagai bahan baku tersebut diakuinya sangat terimbas tibanya musim kemarau di wilayah tersebut yang membuat pohon kelapa menghasilkan air legen dalam jumlah terbatas.

“Kalau dibilang paceklik September 2017 ini sudah mulai terasa bahkan belum tahu kapan kemarau akan berakhir meski kami tetap membuat gula merah dengan resiko hasilnya sedikit,” bebernya.

Usaha kecil pembuatan gula merah yang ditekuninya menurut Misiati juga akan sangat ideal saat harga bisa di atas Rp10 ribu per kilogram karena saat ini sewa pohon kelapa untuk minimal sebanyak 60 batang sudah mencapai Rp2 juta belum termasuk biaya operasional lain.

Biaya itu masih ditambah semakin berkurangnya bahan baku pohon kelapa yang banyak ditebang untuk berbagai keperluan bangunan dan perumahan. Menghasilkan gula merah sekitar 25 kilogram per hari ia menyebut usaha kecil pembuatan gula miliknya mampu memberinya omzet sekitar Rp200 ribu per hari meski saat musim penghujan penghasilan tersebut bisa meningkat seiring meningkatnya air legen kelapa.

Gula merah hasil produsen gula merah di Desa Sukaraja dijual Rp8ribu perkilogr ditingkat produsen dan pengecer mencapai Rp10 ribu per kilogram /Foto: Henk Widi.
Lihat juga...