Selin dan Rani Wakili SMA Frateran Podor ke Amerika

LARANTUKA  –  Dua siswi SMAK Frateran Podor Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Therensia Paulina Paty Diaz atau kerap disapa Selin dan Maria Tonu Koting yang biasa dipanggil Rani, mendapat beasiswa belajar selama setahun di Amerika Serikat.

Kedua siswi asal Larantuka dan Lembata ini lulus seleksi tahap pertama tentang pengetahuan umum dan menulis esai, tahap kedua wawancara tentang kepribadian baik dalam bahasa Inggris maupun bahsa Indonesia serta tahap ketiga dalam mempresentasikan masalah-masalah sosial yang terjadi saat ini.

Saat ditemui di sekolahnya, Kamis (10/8/2017) siang, keduanya mengaku tertantang untuk bisa ke luar negeri setelah seorang kakak kelasnya terlebih dahulu lukus seleksi. “Saya tertarik karena ingin mengunjungi negara lain dan mengetahui bagaimana kehidupan di negara tersebut, khususnya negara maju terkait kehidupan sosial, ekonomi dan pendidikan di sana,” ungkap Selin.

Selain itu, kata Selin, ia ingin mencari pengalaman baru rasanya tinggal di negara yang jauh dari tempat tinggalnya, negara Indonesia meski dirinya mengaku masih memiliki sedikit kekurangan di bidang tata bahasa dan beberapa kosa kata bahasa Inggris yang masih sulit diucapkan, sementara bahasa sehari-hari sudah lancar.

“Saya berharap, setelah pulang dari Amerika bisa mengenalkan pengalaman di sana, agar bisa diterapkan di daerah saya sebagai contoh, agar bisa memotivasi kita agar lebih maju,” sebutnya.

Sekolah Frateran Podor, ujar Selin,  melatih siswa-siswi serta mengasah kemampuan dengan cara-cara berbeda, termasuk soal kedisplinan, pengetahuan dan keterampilan dan sebuah pilihan yang bagus baginya  bisa bersekolah di sekolah ini.

“Pesan saya kepada pelajar lain, supaya harus tekun dalam bidang yang diminati dan jangan menekuni bidang lain yang tidak diminati, agar ke depan tidak tertekan atau dipaksa agar bisa meraih sukses,” pesannya.

Selin mengaku telah mempersiapkan diri dengan mempelajari dan menghafal lagu-lagu daerah Flores Timur, sehingga nantinya saat ada pementasan di Amerika seni budaya ini bisa ditampikan seraya mengenakan pakaian adat Lamaholot.

Sementara, Rani, mengaku tertarik mengikuti beasiswa belajar ke Amerika sebab sejak tahun sebelumnya ikut tes pertukaran pelajar, karena budaya di negera lain berbeda dengan negara Indonesia serta ingin meningkatkan perbendaharaan bahasa Inggris.

“Saya pernah ikut kursus bahasa Inggris dan belajar juga di rumah dan saya juga belajar menari dan mampu menarikan beberapa tarian daerah, sehingga nantinya saya akan pertunjukkan bila ke Amerika tahun 2018 nanti,” terangnya.

Setelah dikatakan terpilih belajar selama setahun di negeri Paman Sam, Rani mengaku senang sebab usaha dan perjuangannya selama ini akhirnya berhasil, karena dirinya ingin memotivasi teman-teman agar belajar banyak bahasa, sebab dengan bisa berbahasa asing kita bisa ke luar negeri.

“Orangtua sempat kuatir terkait biaya, namun saya jelaskan ini adalah beasiswa dan bisa juga kita bisa mencari sponsor atau bantuan dari pemerintah daerah,” jelasnya.

Perempuan yang ingin menjadi dokter atau kuliah di kampus-kampus yang ada ikataan dinas milik pemerintah ini menyebutkan, setiap orang  mempunyai bakat dan kemampuan berbeda, sehingga harus menjadi diri kita sendiri dengan menggeluti bidang yang diminati hingga meraih kesuksesan.

“Sekolah ini merupakan rumah kedua, sebab di tempat ini saya mengenal jati diri saya dan saya menjadi lebih terbuka dan berkomunikasi dengan banyak orang,” pungkas Rani.

Lihat juga...