Cuaca Buruk Pengaruhi Sektor Usaha Perikanan di Lampung
LAMPUNG — Sektor usaha kecil pengeringan ikan di wilayah Lampung Selatan, turut terdampak oleh kondisi cuaca buruk angin timur yang menyebabkan nelayan di wilayah Kecamatan Ketapang, Kalianda, Rajabasa dan Bakauheni memilih beristirahat sementara waktu, sehingga hasil tangkapan atau suplai ikan jenis teri sebagai bahan ikan teri kering, menurun.
Hasan, pemilik usaha kecil pengolahan teri kering dan ikan asin menyebut, keterbatasan bahan baku menyebabkan sektor usaha yang digelutinya harus mengurangi produksi ikan teri dan ikan asin. Ia mengaku tidak bisa memproduksi teri dan ikan asin dalam jumlah banyak, akibat minimnya pasokan dari sejumlah nelayan.
“Sebagai usaha kecil, jika tidak ada bahan baku kami tidak berproduksi dan bahkan dengan datangnya cuaca buruk angin timur pendapatan nelayan hanya berkisar belasan keranjang ikan”, terang Hasan, di Muara Piluk, Desa Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (29/8/2017).
Sebulan sebelumnya, sektor usaha pengolahan hasil laut yang menjadi tumpuan warga di tepi pantai dikenal dengan usaha perebusan ikan teri dan ikan asin yang dikeringkan tersebut, menurut Hasan terdampak langsung mahalnya harga garam.
Harga garam yang semula per sak atau ukuran 50 kilogram dibeli seharga Rp250 ribu sempat naik menjadi Rp280 ribu, ditambah kelangkaan pasokan. Namun, saat ini diakuinya pasokan garam sudah kembali normal dengan kisaran harga garam Rp260 ribu per sak.
Hasan yang mengandalkan pasokan bahan baku dari nelayan tersebut mengaku, pada puncak musim teri serta bahan baku ikan asin jenis ikan petek, ikan selar serta ikan jenis lain, dirinya bisa mendapatkan bahan baku sebanyak 200 keranjang ikan dengan harga beli sebesar Rp150 ribu perkeranjang ukuran 15 kilogram. Namun dengan kondisi cuaca buruk seperti saat ini, pasokan bahan baku untuk usaha kecil miliknya hanya sebanyak 20 keranjang yang dikumpulkan dari beberapa nelayan.

Dihantam berbagai persoalan mahalnya harga garam, kurangnya bahan baku Hasan mengaku tetap memproduksi ikan asin dan ikan teri, agar karyawannya tetap bisa memperoleh penghasilan. Ia menyebut, sebagai usaha kecil dengan modal kecil, bahkan sistem pembayaran pembelian bahan baku dibayar dengan sistem kredit dan sebagian kontan membuat usaha tersebut kerap mengalami pasang surut.
Hasan menyebut, jika usahanya berhenti, ia kuatir pekerja yang menggantungkan hidupnya dari sektor usaha tersebut tidak memperoleh penghasilan. Sebab, dalam sehari beberapa karyawan selama ini mendapat bayaran harian berkisar Rp50-60 ribu. Pekerjaan pembuatan ikan asin dan ikan teri yang dikenal juga dengan usaha pengeringan ikan tersebut diakuinya membutuhkan proses yang lama dan tergantung cuaca.
“Cuaca buruk kerap mempengaruhi pasokan bahan baku ikan, dan saat didarat ketika musim hujan kami juga terdampak dengan proses pengeringan ikan yang lama dari saat musim panas”, ungkap Hasan.
Usaha kecilnya dimulai dari proses pembelian bahan baku ikan teri dan jenis ikan asin, proses perebusan dengan garam sebagai pengawet, proses penjemuran hingga penyortiran teri, pengemasan hingga pengiriman ikan ke sejumlah pasar. Hasan menyebut, saat ini akibat kekurangan bahan baku ikan jumlah produksi teri berkurang dari semula bisa memproduksi ratusan sanoko atau tempat penjemuran serta ratusan kardus ikan kini hanya puluhan.
Kardus ikan kering hasil produksi usaha kecil miliknya dengan teri dan ikan asin masing-masing seberat 12 kilogram tersebut, dijual seharga bervariasi mencapai ratusan ribu perkilogram dan dikirim ke sejumlah pasar lokal hingga ke Palembang.
Pemilik usaha pengeringan ikan lain di Pegantungan, Somad, mengungkapkan sebagai usaha kecil yang membutuhkan bahan baku ikan dari nelayan, berharap kondisi cuaca akan segera membaik. Ketersediaan bahan baku tersebut diakuinya akan tetap menyokong sektor usaha kecil masyarakat nelayan dan memberi pemasukan ekonomi bagi masyarakat yang bekerja di bidang tersebut.
“Kalau kami tidak berproduksi, kasihan para pekerja yang harus menghidupi keluarga, dan meski kami hanya usaha kecil setidaknya bisa menyokong ekonomi masyarakat”, terang Somad.
Beberapa usaha kecil pengeringan ikan dan nelayan di Pegantungan yang memanfaatkan bahan baku ikan, di antaranya juga membuat berbagai produk olahan ikan seperti kerupuk ikan dan usaha kecil kuliner berbahan ikan lainnya antara lain pembuatan empek-empek serta makanan lain.