Reog Ponorogo, Kesenian yang Ikut Dilestarikan di Lampung Selatan
LAMPUNG — Ratusan warga Desa Simpang Lima Kecamatan Ketapang berkumpul di lapangan desa untuk menonton atraksi wisata budaya dengan pertunjukan kesenian Reog Ponorogo dalam rangkaian merayakan HUT ke-72 RI.
Samidi (65) sebagai pemerhati budaya dan kesenian Jawa Timur dan sekaligus sebagai ketua seni Reog Ponorogo dengan nama “Singobudoyo” mengungkapkan, Reog Ponorogo merupakan salah satu kesenian yang masih dipertahankan hingga kini oleh masyarakat di wilayah tersebut.
Warga yang sebagian merupakan transmigran dari Jember, Kediri, Blitar serta sebagian wilayah Jawa Timur yang diungsikan akibat bencana letusan Gunung Kelud dan sebagian melakukan transmigrasi sejak tahun 1976 membawa kesenian tersebut ke wilayah Lampung.

“Kami menampilkan kesenian reog pada saat istimewa saat ada hajatan dan juga di lokasi wisata serta saat ada festival reog yang kami selenggarakan setiap tahun sebagai sebuah wisata budaya yang masih menjadi daya tarik bagi masyarakat,” ungkap Samidi saat ditemui Cendana News, Minggu (20/8/2017).
Ia juga menyebut sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan saat ini anggota kelompok kesenian reog yang dipimpinnya beranggotakan sekitar 30 anggota, meliputi pemain musik, penari baik dewasa maupun anak anak usia SD.
Ia juga mengakui komunitas budaya di wilayah Ketapang sangat beragam di antaranya kesenian kuda kepang, tari Janger Bali, karawitan serta kesenian lain yang kerap ditampilkan pada saat saat istimewa dan menjadi daya tarik bagi masyarakat tanpa mengenal usia. Khusus untuk reog Ponorogo Samidi bahkan menyebut sangat disukai anak anak hingga orang dewasa dengan atraksi atraksi yang menarik.
Atribut yang digunakan di antaranya reog yang melambangkan singa dan burung merak serta tambahan aksesoris lain berupa topeng ganongan serta caplokan atau barongan. Pada kelompok kesenian reog yang dipimpinnya beberapa urutan yang ditampilkan saat tarian reog di antaranya jatil, bujang ganong, warok dan reog yang dimainkan oleh orang dewasa dan anak anak.

Sebagai wisata budaya ratusan warga di wilayah tersebut bahkan menonton hingga selesai tanpa kecuali dari berbagai suku yang tinggal di Ketapang diantaranya Jawa, Bugis, Bali, Padang dan suku suku lain melihat atrasksi reog Ponorogo.
Samidi juga mengaku bangga karena dari puluhan anggota kesenian yang dipimpinnya sebagian merupakan generasi muda mulai dari anak anak SD hingga SMA dan generasi tua masih tetap ikut mewariskan kesenian sekaligus wisata budaya tersebut di wilayah Lampung Selatan. Dalam waktu dekat ia berharap Dinas Pariwisata bisa memberikan kesempatan sekaligus dukungan biaya untuk penyelenggaraan festival reog Ponorogo di Lamsel dari berbagai kelompok kesenian.

“Ini sebuah wisata budaya yang saya jarang lihat kalaupun pernah lihat di televisi atau jauh dari tempat tinggal saya jadi tak sempat menonton,” ungkap Sinaga.