‘KPK’ Denpasar Peduli Lingkungan
DENPASAR – Sedikit sekali orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kebersihan lingkungan yang disebabkan oleh sampah. Berbagai alasan klasik melatar-belakangi, sehingga orang tidak mau peduli dan membuang sampah sembarangan.

Hal itulah yang membuat Komang Sudiarta membuat Komunitas Pemerhati Kebersihan (KPK) di Kota Denpasar. Sudiarta menceritakan, dalam kegiatannya komunitas ini fokus terhadap kebersihan lingkungan, terutama yang disebabkan oleh sampah.
“KPK hadir untuk mengusik kebiasaan orang-orang yang sulit dihilangkan, membuang sampah seenaknya”, ucap pria yang akrab disapa Om Bmo ini.
Komunitas ini sering mengkampanyekan kebersihan lingkungan terutama di kota Denpasar, dengan cara membuat kegiatan rutin dengan aksi bersih-bersih pantai yang dilakukan setiap Minggu sore. Tidak hanya itu, komunitas ini juga sering membuat even, dan setiap even yang digelar tidak ada sampah satupun yang tersisa.
“Kami juga melakukan pembinaan terhadap para pelajar mulai dari tingkat SD hingga kuliah. Tujuannya adalah memberikan pendidikan karakter terhadap siswa sejak dini, agar bisa berfikir terhadap dampak lingkungan yang disebabkan oleh sampah”, Jelas Bmo.
Komunitas yang sudah berjalan sejak 2009 ini memiliki ribuan relawan yang tersebar di seluruh wilayah Bali dan Denpasar, sebagai center point-nya.
Bmo menambahkan, persoalan sampah merupakan bagian serius yang harus ditangani, mengingat Pulau Bali merupakan daerah tujuan wisata yang sering kali lalai dalam penanganan masalah sampah. Hal tersebut disebabkan oleh perilaku masyarakat yang tidak memiliki dedikasi terhadap lingkungan. Selain itu, juga kurang masifnya pemerintah daerah melakukan sosialisasi dan membentuk karakter masyarakat agar bisa peduli dengan lingkungan.
“Kita sering koar-koar untuk menjual pariwisata ke dunia, tapi kita sendiri lupa memikirkan persoalan sampah. Sampah yang dihasilkan mereka ke mana? Kalau cuma dibuang begitu saja ke TPA, berarti perilaku nyampah mereka yang harus diubah. Sekarang mana peranan pemerintah yang konsisten terhadap masalah sampah, memang sudah ada aturan, namun sampai di mana? Bagaimana pengawasannya? Saya pikir pemerintah hanya buat program demi gugur tugas saja”, papar Bmo.
Menurut Bmo, semestinya pendidikan karakter yang diajarkan kepada masyarakat itulah yang sangat penting. Penanganan ini tidak hanya sebatas membuang sampah di tempatnya, melainkan terkait pendidikan karakter yang diberikan oleh pemerintah terhadap masyarakat.
Menurut Bmo, sampah yang paling banyak di Bali adalah sampah organik yang dihasilkan oleh kegiatan peribadatan. Besarnya sekitar 65 persen sampah organik dan sisanya sampah anorganik.
Selain itu, sebagai wujud nyata lain dalam kepeduliannya terhadap lingkungan, Om Bmo juga menginisiasi membuat tulisan ‘Malu Dong Buang Sampah Sembarang’.
Tulisan ini sering dijumpai di kota Denpasar, Bali, dan tidak sulit untuk bisa menemukan tulisan tersebut di sudut-sudut kota seperti di pasar, sekolah, dan gedung perkantoran. Dan, beberapa tempat wisata seperti Pantai Kuta dan Pantai Sanur. Tulisan tersebut dituangkan di bendera warna warni dan stiker yang ditempel di kendaraan.
Tulisan yang sarat makna ini, menurut Om Bmo, dilakukan sebagai bentuk sindiran bagi dirinya dan masyarakat, terutama bagi mereka yang suka membuang sampah di sembarang tempat.
“Jelas tulisan ini ditujukan bagi saya secara pribadi dan semua orang, terutama bagi mereka yang suka membuang sampah sembarang”, aku pria yang pernah bekerja di Amerika, ini.
Kesadaran serta pengelolaan sampah yang tepat sangat mendesak, mengingat volume sampah di TPA Suwung Denpasar sudah sangat banyak. Dari data yang dimiliki pihak pemerintah setempat, tumpukan sampah mencapai sekitar 20 juta ton. Setiap hari sampah yang masuk mencapai 900-1.200 ton.