Ketan Bintul Bertabur Serundeng Pelepas Rindu Warga Jaseng

LAMPUNG — Kehadiran masyarakat Banten di wilayah Lampung Selatan turut mempengaruhi budaya dan kuliner daerah setempat. Hal tersebut tak bisa dilepaskan dari sejarah hubungan yang sangat baik antara Keratuan Darah Putih pada masa silam dengan Kesultanan Banten.

Menurut warga Banten yang saat ini menetap di Lampung, abah Samsudin, sebagian besar warga pendatang tersebut dikenal dengan warga “Jaseng” atau Jawa Serang dan saat ini telah membaur dengan warga dari wilayah lain. Beberapa lokasi yang cukup banyak dihuni di antaranya di lereng Gunung Rajabasa di antaranya meliputi Desa Merambung, Rawi, Way Kalam, Tanjung Heran dan sebagian wilayah pesisir Kunjir sebagai penanam kopi.

Salah satu ke khasan daerah asal yang masih dipertahankan, yakni kuliner Ketan Bintul. Komariah, asli Banten menyebutkan, makanan tersebut biasanya dibuat setahun sekali pada saat bulan Ramadan dan kerap dijadikan hidangan saat berbuka puasa atau takjil.

“Menu makanan ketan bintul memang jarang ditemui pada hari biasa dan kalaupun ada pasti karena ada kegiatan istimewa,” ungkap Komariah salah satu warga Desa Rawi Kecamatan Penengahan yang mayoritas warganya berasal dari wilayah Banten saat ditemui Cendana News tengah membuat ketan bintul, Sabtu (12/8/2017).

Komariah menyebut membuat menu ketan bintul bukan tanpa alasan, sebab sebagai warga yang mendapat kepercayaan ditempati oleh mahasiswa program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Lampung dan Universitas Islam Negeri Bandarlampung membuat dirinya menyajikan menu istimewa tersebut.

Komariah juga menyebutkan, dengan disajikannya ketan bintul selain mengenalkan kepada mahasiswa KKN yang selama 40 hari tinggal di wilayah tersebut juga sebagai salah satu pengobat rindu akan kampung halaman.

“Saya juga sebagai orang Jaseng rindu menyantap makanan khas ini sehingga ingin membuatnya dengan variasi rasa yang lain dari biasanya,”ungkap Komariah.

Setelah dipotong persegi ketan bintul ditaburi serundeng atau abon [Foto: Henk Widi]
Proses pembuatan ketan bintul terbilang cukup sederhana, dengan bahan baku beras ketan dan kelapa pilihan untuk bahan parutan. Beras ketan yang sudah disiapkan direndam selama satu jam sebelum dikukus atau oleh warga Banten disebut proses “pengaronan” dimaksudkan untuk membuat tekstur empuk. Setelah ditiriskan beras dikukus di dalam dandang selama satu jam hingga terasa lunak. Sembari menunggu, Komariah yang biasanya dibantu sang anak melakukan proses pemarutan kelapa untuk pembuatan serundeng untuk taburan ketan bintul.

Serundeng dari kelapa parut juga merupakan makanan lezat yang kerap digunakan sebagai lauk karena memiliki bahan yang berisi bumbu berupa lengkuas, daun jeruk purut, daun salam, kunyit, ketumbar, bawang putih, bawang merah. Bahan parutan kelapa yang sudah disiapkan disangrai dengan berbagai bumbu yang telah disiapkan hingga matang dan memiliki warna kuning kecoklatan menyerupai abon daging.

“Setelah ketan yang dikukus matang kita angkat dan dicetak menggunakan plastik hingga bisa dipotong persegi untuk disajikan dalam piring dan siap ditaburi dengan serundeng,” ungkap Komariah.

Selain ditaburi serundeng makanan khas ketan bintul diakui Komariah umumnya dipadukan dengan siraman kuah empal daging sapi sehingga bisa jadi menu makanan pengganti nasi. Menu ketan bintul diakuinya sangat pas disajikan dalam kondisi hangat dan dipadukan dengan minuman bandrek atau wedang jahe.

Pertemuan dengan suguhan ketan bintul [Foto: Henk Widi]
Suci, salah satu mahasiswa KKN Unila semester VI yang berasal dari Jambi mengaku dirinya mengenal makanan berbahan ketan di daerah asalnya namun menu ketan bintul yang merupakan makanan khas masyarakat Banten atau Jawa Serang baru kali pertama ditemuinya. Ia yang menyebut menu istimewa saat Ramadan tersebut sekaligus sambutan hangat warga Rawi selama ia dan teman temannya menjalani masa KKN di Lampung Selatan.

Lihat juga...