Kendalikan Penyakit Tular Butuh Partisipasi Warga

SEMARANG — Kesehatan manusia sangat erat kaitannya dengan lingkungan tempat tinggalnya, terutama jika di lingkungan tersebut terdapat hewan. Mengingat beberapa penyakit menular bersumber dari hewan. Dalam istilah medis, penyakit tular yang bersumber dari hewan disebut tular vektor zoonotis.

Contoh penyakit tular vektor zoonotis antara lain demam berdarah yang bersumber dari nyamuk, penyakit lepto yang bersumber dari tikus dan lain sebagainya. Penyakit-penyakit ini yang harus diwaspadai oleh masyarakat, karena bersifat menular dan berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal yang harus dijaga kebersihannya.

Vinda Ardian, pemegang program pengendalian penyakit tular vektor zoonotis Puskesmas Pegandan, menjelaskan, dalam menangani pengendalian penyakit tular vektor zoonotis perlu ada partisipasi aktif dari warga. Pelaporan warga sangat diperlukan, jika terjadi Kasus Luar Biasa (KLB) mengenai adanya warga yang terkena penyakit tular bersumber binatang ini. Supaya bisa ditindaklanjuti benar tidaknya KLB yang terjadi di suatu daerah.

“Kami biasanya menerima kasus dari rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya mengenai adanya kasus warga yang terkena penyakit tular bersumber binatang berdasarkan diagnosa dokter. Dalam waktu 24 jam, kami harus segera melapor ke dinas supaya dinas bisa memutuskan tindakan apa yang perlu dilakukan. Jika masyarakat aktif dan melaporakannya ke kami, kami biasanya langsung kroscek ke rumah sakit. Jika sudah ada diagnosa dokter, kami bisa langsung membuat laporan adanya KLB ke dinas kesehatan”, kata Vinda, saat ditemui Jumat, (25/8/2017).

Vinda menjelaskan lagi, setelah menerima kasus, dia bersama tim akan melakukan kunjungan kasus. Dalam kunjungan ini, tim akan melakukan penyelidikan epidemologi, masa inkubasi, dan analisis lingkungan. Menurutnya, jika terjadi penularan penyakit hingga terdapat 3 orang atau lebih, dinas kesehatan akan menindaklanjutinya. Jika terdeksi kasus demam berdarah, maka akan dilakukan fogging, sedangkan jika terjadi kasus Lepto, akan dilakukan trapping tikus.

Berdasarkan pengalamannya, Vinda menceritakan, bahwa dalam setiap pengendalian penyakit tular vektor zoonotis harus ada partisipasi aktif dari warga, kader puskesmas, maupun pejabat kelurahan di daerah tersebut. Sebab, kendala yang sering dialami dalam melakukan program pengendalian penyakit  tular ini justru karena penolakan dari warga sendiri.

“Saya contohkan seperti program fogging, pasti sangat membutuhkan ijin dari setiap pemilik rumah di daerah tersebut. Padahal, sebelum fogging kami pasti mengadakan rapat koordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah kelurahan dan kader di daerah tersebut. Kami yakin, kader bisa menjadi pintu untuk melakukan pendekatan kepada warga”, ujarnya.

Namun, upaya Vinda dan tim yang sudah didukung oleh pemerintah kelurahan dan kader puskesmas di daerah tersebut masih juga mengalami beberapa penolakan. Vinda mengaku, kalau memang tidak diizinkan tentu tim tidak bisa memaksa, meski konsekuensinya adalah terdapat bias, yaitu adanya tempat yang tidak di-fogging atau tidak dilakukan pengendalian wabah.

Menurut Vinda, sejauh ini pemerintah sangat mendukung dan memfasilitasi berbagai program pengendalian penyakit tular vektor zoonotis. Bahkan, dalam mengatasi kasus Lepto yang disebabkan tikus, dinas kesehatan mengirimkan petugas dari Banjarnegera untuk melakukan trapping tikus di daerah yang kedapatan kasus Lepto. Trapping tikus ini dilakukan dengan alat tertentu untuk menangkap tikus hidup-hidup.

“Meskipun awalnya warga banyak ragu saat tim minta izin untuk memasang perangkap tikus di rumahnya, namun atas bantuan kader akhirnya warga memahami dan menginzinkan trapping tikus ini dilakukan”, tutur Vinda.

Lihat juga...