Di Makassar Ada Kampung Kusta

MAKASSAR— Memasuki kawasan kampung kusta di jalan Dangko, Kecamatan Tamalate, Kelurahan Balang Baru, suasana tenteram dan damai dari kompleks ini sangat terasa. Sekilas kompleks ini sama dengan kompleks pada umumnya di Kota Makassar.

Nuraini. -Foto: Nurul Rahmatan Ummah

Namun, di kompleks tersebut hampir sebagian besar warga di kompleks tersebut merupakan penderita kusta. Di RT 005, dari 172 warga yang tinggal hampir seluruhnya tekena penyakit kusta. Namun, warga yang terkena kusta ini merupakan warga pendatang dari berbagai daerah.

Salah satu warga RT 005, Nuraini, menceritakan sejarah awalnya daerah ini dijuluki kampung kusta. “Pada 1939, penderita kusta datang dari berbagai daerah. Setelah penderita kusta menikah dengan orang di sini dan menetap, maka kompleks ini diberi nama kampung kusta”, cerita Nuraini, saat ditemui di kediamannya, Jumat (25/8/2017).

Perempuan kelahiran 1965 ini menyebutkan, bahwa dulu desa ini sangat terisolir, bahkan tidak ada yang mau mendatangi kawasan ini. Orang merasa jijik dengan penderita kusta. Namun, dari waktu ke waktu pemikiran masyarakat tentang penderita kusta mulai berubah.

Sekarang ini, katanya, penderita kusta bisa dapat bersosiallisasi dengan yang lain, bahkan mereka juga dapat memiliki hak yang sama. Masyarakat di sini tidak risih dengan kehadiran para penderita kusta. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan penderita kusta.

Nuraini bahkan lahir dari orang tua yang juga merupakan pederita kusta, namun tidak ada rasa was-was di dalam hatinya. “Bapak, Mama saya juga penderita kusta, tapi saya yang merupakan keturunan penderita kusta baik-baik saja”, akunya.

Perempuan tamatan SMA ini menambahkan, jika semua orang berpotensi terkena kusta. Hal ini bukan berarti harus menjauhi para penderita kusta. Karena penyakit ini hanya akan menyerang dan nampak pada orang yang lemah daya tahan tubuhnya atau antibodinya.

Beta, penderita kusta. -Foto: Nurul Rahmatan Ummah

“Ini yang selalu disampaikan oleh dinas kesahatan yang kerap kali datang untuk mensosialisasikan permasalahan penyakit kusta ini, sehingga saya hanya perlu menjaga pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah kusta dalam dirinya walaupun terlahir dari penderita kusta”, katanya.

Menurut Nuraini, dulu ketika penderita kusta keluar bersosialisasi keluar dari kampung kusta kerap sekali mendapat cemooh. “Bahkan penderita kusta mendapat deskriminasi dalam mendapatkan pekerjaan. Kebanyakan dari warga yang menderita penyakit kusta hanya bisa bekerja sebagai juru parkir, pengemis, pemulung”, kata Nuraini.

Salah satu warga lainnya, Beta, yang berasal dari Kabupaten Gowa, sejak menderita kusta tinggal di komplek yang diberi nama kampung kusta ini. Waktu itu, umur Beta masih 15 tahun ketika mendapat gejala kusta. “Ketika itu saya mendapati bercak merah pada kulit. Setelah dibawa ke rumah sakit dan diperiksa, saya didiagnosis terkena kusta”, kata Beta, yang kini bekerja sebagai pemulung.

Lihat juga...