Tak Ada Sponsor, FLS2N di Papua Tanpa Hadiah Uang

JAYAPURA – Sebanyak 81 peserta siswa siswi SD, SMP dan SLB (Sekolah Luar Biasa) dari tujuh kabupaten dan satu kota di Papua, mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi.

Kabid PKLK Dinas Pendidikan Papua, Laorens Wantik. -Foto: Indrayadi T Hatta

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dinas Pendidikan Provinsi Papua, Laorens Wantik, mengatakan tujuh kabupaten dan satu kota ini masing-masing Kabupaten Merauke, Mappi, Asmat, Mamberamo Raya, Nabire, Waropen, Jayapura dan Kota Jayapura.

“Festival ini tingkat Nasional, untuk memberikan wadah berkreasi dengan menampilkan karya inovatif dan kreatif bagi pelajar-pelajar tingkat SD, SMP dan SLB,” kata Laorens, Senin (14/8/2017).

Festival ini sudah digagas sejak 1998, lalu, untuk mengukur hasil belajar siswa siswi dikemas dalam lomba seperti ini tiap tahunnya. Nantinya, lomba ini setelah ada yang terpilih, akan lomba ke tingkat nasional, terpusat di Surabaya, Jawa Timur.

“Ini proses penyiapan sebeum lomba harus dilakukan, untuk SD dan SMP ini memang persaingannya berat. Jadi, harus benar-benar dipahami,” ujarnya.

Menurutnya, intisari kegiatan adalah mengangkat seni budaya daerah masing-masing di wilayah Provinsi Papua. Ke depan pihaknya akan bekerjasama dengan ISBI Papua dan juga berharap kepada pemda setempat untuk memberikan pembinaan terus-menerus kepada yang mempunyai talenta bidang seni.

Kasi Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua, Mozes Maniagasi. -Foto: Indrayadi T Hatta

“Karena kami provinsi fokusnya tingkat SMA dan SMK, jadi kalau bisa Pemkab atau Pemkot bisa membina tingkat SD, SMP bahkan SLB, agar dimasukkan dalam anggaran,” tuturnya.

Sementara Kepala Seksi Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Papua, Mozes Maniagasi, mengatakan kegiatan ini berlangsung selama tiga hari dari hari ini hingga 16 Agustus, dan akan disaring untuk maju tingkat nasional.

“Nanti tingkat provinsi kami siapkan piagam dan piala bagi pemenang juara 1, 2, 3 hingga juara harapan. Untuk tahun ini tak ada sponsor, jadi tak ada uang pembinaan,” kata Mozes.

Ke depan, pihaknya akan berupaya mencari sponsor untuk memberikan dana pembinaan kepada anak didik mereka di tingkat SD, SMP dan SLTP. “Memang benar tahun lalu ada dana pembinaan, tapi itu karena ada sponsor dari Bank Papua. Tahun ini sama sekali belum ada sponsor,” ujarnya.

Peserta terbagi dalam beberapa kategori, yakni 5 musik tradisional, 11 kreativitas tari, 3 gitar solo, 11 nyanyi solo, 5 baca puisi, 5 pantomin serta cipta baca puisi sebanyak 6 peserta. Kesemuanya ini dinilai langsung oleh juri-juri berkompeten sesuai bidangnya dan bekerjasama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua.

Lihat juga...