FITRA-FES Perkuat Sistem Informasi Desa di Sikka
MAUMERE – Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) bersama Friedrich Ebert Stiftung (FES), mengandeng Shoes for Flores dan Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD), akan memperkuat sistem informasi di lima desa di Kabupaten Sikka, yakni Desa Langir, Kecamatan Kangae, Desa Geliting dan Waiara di Kecamatan Kewapante serta Desa Waibleler dan Hoder di Kecamatan Waigete.

Sekjen FITRA, Yenny Sucipto, mengatakan, tanpa ada data yang akurat, tanpa ada data yang selalu diperbaharui, maka mustahil bagi desa untuk membuat perencanaan pembangunan bagi desa dan kabupaten atau kotanya.
“Kami akan mengembangkan aplikasi sistem informasi desa dan melatih perangkat desa untuk menggunakannya baik secara offline maupun online, yang mana akan bekerja sama dengan kementerian Komunikasi dan Informatika,” ungkapnya, usai seminar penguatan aparatur desa di Maumere, Selasa (22/8/2017) sore.
Menurut Yenny, ada banyak faktor yang menyebabkan tata kelola keuangan di desa tidak berjalan baik, yakni sumber daya aparatur desanya dan regulasi terkait tata kelola anggaran di desa.
Urusan desa membangun, lanjutnya, harus dilihat sebagai satu proses yang terus bertumbuh, sehingga apapun yang belum ada itu yang harus terus diperkuat. Misalnya, saat ini aparatur desanya yang masih lemah, maka itu yang harus diperkuat dan apa yang belum maka itu yang diperbaiki.
“Kami sangat konsen sekali untuk mendorong tata kelola anggaran yang lebih baik, di mana tahun lalu kami memilih 3 kabupaten kota dan tahun ini kami memilih 2, yakni di Sikka dan Kabupaten Humbang Hasundutan di Sumatera Utara, di mana masing-masing kabupaten kami dampingi 5 desa,” terangnya.
Yenny mengatakan, Sikka dipilih karena di wilayah Indonesia Timur, kabupaten dan kotanya masih jauh tertinggal dari pulau Jawa dan pihaknya melihat masyarakat sipil di kabupaten Sikka cukup progresif dan ingin memperbaiki situasi serta ternyata sambutan Pemda Sikka juga sangat positif.
Mian Manurung, Friedrich Ebert Stfitung (FES), menambahkan, sebenarnya program itu sudah ada dari pemerintah dan pihaknya hanya memfasilitasi. Mungkin ada informasi yang tidak sampai ke desa, sehingga pihaknya hanya memperkaya apa yang sudah ada itu.
Sistem ini, kata Mian, akan terintegrasi dengan sistem di kabupaten bahkan nanti di provinsi, bahkan nasional, di mana pihaknya akan melatih perangkat desa dari 5 desa sampai tanggal 24 Agustus dan dari tanggal 25 sampai 31 Agustus 2017 ada 3 tim yang akan turun ke desa-desa melihat data yang ada, apa yang harus dikerjakan, sehingga sistemnya bisa berjalan.
“Proses pendampingan jarak jauhnya terus berjalan selama setahun dan dalam dua bulan ke depan sekitar Oktober tim kami akan datang lagi untuk melihat sejauh mana perkembangannya”, terangnya.
FES dan FITRA, sebut Mian melihat desa-desa di kabupaten Sikka memiliki kemauan untuk dilatih dan FES mempunyai nota kesepahaman dengan Kemenetrian Koordinator PMK dan salah satu kementerian yang berada di bawah koordinasi PMK, yakni Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal dan pemilihan Sikka juga hasil konsultasi dengan kementerian tersebut.
“Alasan lain memilih kabupaten Sikka, karena Sikka termasuk daerah yang miskin di Indoensia, padahal sumber daya alamnya sangat kaya, jadi apa yang salah dengan ini?” tanyanya.
Pihaknya hanya bisa mendampingi masing-masing 5 desa saja di dua kabupaten termasuk di Sikka, sebagai model atau pilot project, dan berharap agar kelima desa ini bisa menjadi pemicu bagi desa lainnya di kabupaten Sikka.