Walikota Yogyakarta Tegaskan Tak Ada Intoleransi di Kota Pendidikan
YOGYAKARTA — Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti menegaskan tidak adanya tindakan intoleransi di setiap sekolah negeri. Ia menjamin semua proses belajar mengajar dilakukan sesuai koridor kebangsaan, kebhinekaan dan persatuan untuk mencapai prestasi. Ia pun meminta masyarakat tidak perlu khawatir untuk mendaftarkan anaknya dalam proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
“Tidak benar adanya isu intoleransi yang berkembang di satuan pendidikan atau sekolah di wilayah di Kota Yogyakarta. Tidak ada juga siswa muslim yang diwajibkan memakai jilbab oleh sekolah di kota Yogyakarta. Kami pastikan hal seperti itu tidak ada. Silahkan ditanyakan langsung pada siswa,” kata Haryadi Suyuti di Yogyakarta, Selasa (4/7/2017).
Haryadi mengatakan, siswa di seluruh sekolah di Kota Yogyakarta selama ini justru diajarkan untuk selalu mengembangkan sikap dan gaya hidup yang mengedepankan sikap toleransi dengan tidak membatasi pertemanan hanya pada kelompok tertentu saja. Ia pun meminta masyarakat baik orang tua, wali murid atau siswa yang mengalami atau mengetahui tindakan intoleransi dengan melapor ke pihak berwenang.
“Apabila memang ada silakan sampaikan pada kami,” katanya.
Walikota Yogyakarta menyampaikan hal itu setelah sebelumnya muncul isu adanya dugaan tindakan intoleransi oleh SMP Negeri 5 Yogyakarta. Dimana pihak SMP negeri favorit di Kota Yogyakarta itu dinyatakan mewajibkan seluruh siswinya yang beragama Islam agar mengenakan hijab atau kerudung.
Hal itu langsung dibantah oleh pihak SMP Negeri 5 Yogyakarta. Kepala sekolah SMP 5 Yogyakarta, Suharno menyatakan tidak ada aturan di sekolahnya yang mewajibkan siswi muslim memakai hijab.
“Tidak ada kewajiban semacam itu. Dalam tata tertib sekolah memang ada ketentuan mengenai penggunaan seragam setiap hari. Dimana pihak sekolah memberikan kesempatan bagi siswi muslim untuk berhijab, tetapi tidak disebutkan adanya kewajiban untuk berhijab,” katanya.
Menurut Suharno, pihaknya tidak pernah membeda-bedakan murid berdasarkan agama yang mereka anut. Semua murid diajarkan untuk mengembangkan sikap toleransi, saling menghormati dan menghargai meskipun berbeda keyakinan. Bahkan dikatakan setiap pagi, setiap siswa diberikan waktu untuk melakukan penguatan ibadah sesuai agama masing-masing, dengan ruangan sendiri atau terpisah.
Hal senada juga diungkapkan Kepala SMA Negeri 1 Yogyakarta Rudy Prakanto. Ia menepis adanya isu mengenai tindakan intoleransi di sekolahnya. Termasuk isu adanya pemisahan ruang kelas untuk siswa laki-laki dan perempuan, atau isu adanya kain pemisah sebagaimana di masjid antara tempat duduk siswa laki-laki dan perempuan di dalam satu kelas.
“Tidak ada hal-hal seperti itu. Karena kita justru kekurangan kelas. Bagaimana bisa ada isu seperti itu setiap menjelang PPDB, saya tidak tahu. Yang jelas semua siswa mendapatkan perlakukan yang sama, termasuk untuk kegiatan keagamaan,” katanya.