Pemilik Jasa Tambal Laris karena Proyek Jalan Tol
LAMPUNG — Proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dari STA 00 di Kecamatan Bakauheni hingga STA 18 di Kecamatan Penengahan sudah berjalan sejak 2015 dan masih terus berlangsung.
Bagi para pemilik usaha di sepanjang Jalan Lintas Sumatera proyek pembangunan JTTS tersebut bahkan menjadi suatu berkah tersendiri. Yang mendapatkan imbas positif, antara lain para pemilik rumah kontrakan yang disewa oleh para pekerja tol yang sebagian berasal dari luar wilayah Lampung, pemilik usaha warung makan mendapatkan banyak pesanan dari para pekerja proyek tol dan usaha lain seperti tambal ban.
Salah satu pemilik usaha jasa tambal ban, Sitinjak (34) menyebutkan menjadi pemilik usaha tambal ban sebelumnya dalam sehari selama menjadi tukang tambal ban hanya memperoleh pelanggan 5 hingga 10 orang yang datang ke lokasi usaha di KM 04 Bakauheni. Dengan pelanggan sjeumlah itu, ia memperoleh puluhan ribu rupiah.
“Sebelum ada proyek tol mendapatkan uang puluhan ribu dalam sehari saja sudah berat karena rata rata yang mampir pengendara kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat bisa dihitung dengan jari kalaupun banyak hanya saat musim libur panjang dan arus mudik lebaran,” ungkap Sitinjak saat ditemui Cendana News, Jumat (28/7/2017)
Namun sejak proyek pembangunan JTTS mulai melakukan proses penimbunan dengan menggunakan material tanah dan batu dengan kendaraan kendaraan dump truck berukuran besar situasi berubah.
Sebagian kendaraan dump truck yang mengalami kempes hingga pecah ban mempergunakan jasanya. Semula sebagian pemilik kendaraan menerapkan sistem kasbon alias berhutang. Bermodalkan kepercayaan sebagian besar kendaraan dump truck pengangkut material tol yang menggunakan jasanya semakin bertambah bahkan mulai berlangganan kepadanya.
Kebutuhan akan proses pengangkutan material tanah tol membuat jumlah kendaraan dump truck yang dilakukan oleh sub kontraktor PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) menambah jumlah armada menjadi puluhan kendaraan bahkan pada tahun pertama sebanyak 140 kendaraan digunakan.
Ratusan kendaraan tersebut menurut Sitinjak dalam sehari beberapa diantaranya kerap mengalami ban meletus, ban kempes bahkan harus menjalani penggantian ban setelah proses pengangkutan material tanah dan batu dengan beban yang berat.
“Semakin banyaknya dump truck yang dipergunakan dan menggunakan jasa tambal,isi angin di tempat saya akhirnya mulai ada kerjasama dari operator kendaraan dengan sistem pembayaran bulanan,” terang Sitinjak.
Sistem pembayaran tersebut diakuinya sesuai dengan jasa yang diberikan diantaranya tambah angin, tambal ban, ganti ban baru dengan ongkos mulai Rp20 ribu hingga Rp30 ribu untuk tambah angin serta tambal ban.
Sementara untuk ganti ban dalam dan ban luar diakuinya membutuhkan biaya mulai dari Rp280 ribu tergantung jenis ban yang diganti sementara ban luar disediakan oleh perusahaan.
Berbeda dengan tukang tambal ban lain yang tidak menerima pembayaran kasbon, Sijintak rela dibayar akhir bulan membuat tempat usahanya dipilih sebagai tempat perhentian setiap dump truck yang bermasalah.
“Kalau dihitung dalam kurun dua tahun ini sudah ribuan kali saya menerima pesanan jasa isi angin dan tambal ban dan sistem pembayarannya diklaim ke perusahaan jadi kami sediakan nota tindakan yang kami lakukan mulai tambal ban hingga ganti ban baru,” katanya.
Dalam sepekan ia melayani 100 kendaraan dan dari jumlah itu meraih omzet sekitar Rp3 juta lebih untuk tambal ban serta isi angin di luar pembelian ban dalam. Jumlah itu didapatnya secara rutin sesuai dengan jumlah nota yang dikumpulkan dan diketahui oleh pengemudi dump truck.
Salah satu pengemudi dump truck, Hasibuan,yang sudah bekerja selama dua tahun di proyek tol Sumatera mengaku kendaraan dump truck dengan jumlah ban sebanyak 10 buah berukuran besar tersebut kerap mengalami masalah kempes ban, pecah ban akibat muatan yang berat.
Beruntung semua masalah pada kendaraan termasuk kerusakan menjadi tanggungan perusahaan termasuk jasa isi angin yang akan dicatat dalam pembukuan dan dibayar perusahaan.
“Kami tetap harus menjaga kondisi kendaraan kami dalam keadaan prima meski terkadang tetap bermasalah dan harus segera diperbaiki dan soal bahan bakar minyak juga sudah menjadi tanggungan,” papar Hasibuan.


