Enam Tahun Menabung, Tukang Pijit Bayi Naik Haji
YOGYAKARTA — Raut muka sumringah terpancar dari wajah Yanizimah (65) warga Karanganyar, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. Nenek dari 12 cucu yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat bayi ini akhirnya bisa mewujudkan keinginannya sejak lama untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima yakni ibadah Haji.
“Berangat besok Kamis siang pukul 12.00 WIB. Ini sedang siap-siap mengepaki pakaian. Ya senang sekali karena bisa menunaikan rukun Islam yang kelima, ” ujarnya saat ditemui Cendananews di rumah sekaligus tempatnya membuka praktik pijat bayi, di sekitar Jalan Sisingamangaraja Yogyakarta, Jumat (28/07/2017).
Zimah mengaku harus mengumpulkan yang uang sedikit demi sedikit dengan cara menabung untuk bisa membiayai perjalanan haji. Setiap hari ia harus menyisihkan uang hasil pendapatannya sebagai tukang pijat bayi. Selama bertahun-tahun ia harus menunggu dan bersabar hingga akhirnya bisa mewujudkan keinginannya naik haji saat ini.
“Sebenarnya saya sudah punya keinginan naik haji sejak lama. Tapi karena tidak punya uang saya baru bisa mendaftar pada 2011. Saya bayar uang muka biaya haji dari hasil menabung selama ini,” katanya.
Meski telah mampu membayar uang muka biaya haji, Zimah masih harus membayar uang cicilan selama kurang lebih 6 tahun. Setiap bulan ia mengumpulkan uang dari hasil memijat sebesar Rp375 ribu nyicil tiap bulan.
“Saya sisihkan sedikit untuk bayar cicilan biaya haji. Sekarang pun belum lunas, Desember 2017 besok baru lunas,” katanya.
Zimah sendiri sudah menjadi tukang pijit bayi sejak 23 tahun silam. Ia mendapat keterampilan memijat dari orang tuanya yang juga seorang tukang pijat.
Selain memijat bayi dan anak kecil, ia juga biasa menerima pasien dewasa yang mengalami keseleo atau capek-capek. Ia juga siap melayani pijat panggilan dengan berangkat seorang diri ke rumah pelanggan menggunakan sepeda motor.
“Saya tidak mematok tarif. Seiklasnya saja. Kalau memang tidak punya tidak saya suruh bayar. Sehari yang pihak bisa 3-4 orang,” katanya.
Sementara itu tetangga Zimah sekaligus pelanggan setia, Siti Radiyah (33) mengaku rutin memijatkan anaknya yang berusia 2,5 tahun. Meski tidak sakit pun ia selalu memijatkan anaknya agar badanya lebih fit.
“Karena sudah cocok, jadi setiap bulan rutin kesini. Setelah pijat biasanya bisa tidur lebih nyenyak, makanya lebih banyak dan badan jadi lebih fit,” ujarnya.
Siti sendiri mengaku senang dengan kabar keberangkatan Zimah naik haji tahun ini. Ia menilai kesabaran dan ketlatenan Zimah untuk menabung selama bertahun-tahun agar dapat naik haji bisa menjadi inspirasi bagi dirinya dan warga sekitar.
“Ikut senang. Semoga beliau bisa menjadi haji yang mabrur. Dan setelah pulang bisa semakin giat beribadah,” katanya.